BERITA TERKINI
Sarapan Sehat Tak Harus Mahal: Kunci Ada pada Ragam Gizi dan Bahan Lokal

Sarapan Sehat Tak Harus Mahal: Kunci Ada pada Ragam Gizi dan Bahan Lokal

Sarapan sehat kerap dipersepsikan identik dengan susu mahal, sereal impor, atau makanan khusus berlabel “sehat”. Padahal, kebutuhan gizi tubuh dapat dipenuhi dari bahan pangan lokal yang mudah ditemukan di pasar maupun warung sekitar rumah.

Isu gizi masih menjadi pekerjaan besar di Indonesia. Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 mencatat prevalensi stunting nasional sebesar 19,8 persen, turun dari 21,5 persen pada 2023. Meski terjadi penurunan, angka tersebut menunjukkan persoalan pertumbuhan dan pemenuhan gizi tetap memerlukan perhatian serius.

Di tingkat keluarga, upaya paling sederhana dapat dimulai dari meja makan: membiasakan makanan yang beragam, cukup, aman, dan sesuai kebutuhan.

Sarapan bukan sekadar mengisi perut

Setelah tidur semalaman, tubuh membutuhkan energi untuk memulai aktivitas. Karena itu, sarapan tidak hanya soal merasa kenyang sebelum berangkat sekolah atau bekerja. Kementerian Kesehatan melalui Pedoman Gizi Seimbang menempatkan kebiasaan sarapan sebagai salah satu pesan penting dalam pola hidup sehat.

Sarapan yang baik juga tidak harus rumit. Kombinasi nasi, telur, tempe, sayuran, buah lokal, dan air putih dinilai lebih beragam dibanding pola sarapan yang hanya mengandalkan teh manis dan makanan berbasis tepung.

Ukuran sarapan sehat bukan terletak pada harga makanan, melainkan komposisinya. Tubuh memerlukan karbohidrat sebagai sumber energi, protein untuk membangun dan memperbaiki jaringan, serta vitamin, mineral, serat, dan cairan untuk menunjang berbagai fungsi tubuh.

Bahan lokal menyediakan banyak pilihan

Indonesia memiliki modal pangan yang besar. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan produksi padi Indonesia pada 2025 mencapai sekitar 60,21 juta ton gabah kering giling, yang menghasilkan sekitar 34,69 juta ton beras untuk konsumsi pangan penduduk.

Namun, sumber karbohidrat tidak terbatas pada beras. Jagung, ubi jalar, singkong, kentang, dan berbagai pangan lokal lain dapat menjadi alternatif. Begitu pula sumber protein, yang tidak harus selalu berasal dari daging. Tempe dan tahu merupakan contoh bahan yang dekat dengan keseharian masyarakat, sementara telur relatif mudah diolah dan dapat dipadukan dengan sayuran.

Untuk buah, pilihan dapat disesuaikan dengan musim. Pisang, pepaya, semangka, jeruk, jambu, melon, dan buah lokal lain dapat menjadi bagian menu tanpa harus mengejar buah impor yang umumnya lebih mahal. Pendekatan ini membuat kebiasaan sarapan sehat lebih realistis untuk dipertahankan.

Tantangan gizi juga datang dari kelebihan asupan

Pembahasan gizi anak sering berhenti pada isu kekurangan makanan. Padahal, Indonesia menghadapi persoalan yang lebih kompleks. Riskesdas 2023 mencatat prevalensi obesitas pada penduduk dewasa usia di atas 18 tahun mencapai 23,4 persen, meningkat dibanding Riskesdas 2018 yang sebesar 21,8 persen.

Kondisi tersebut menggambarkan beban ganda masalah gizi: sebagian masyarakat menghadapi kekurangan zat gizi, sementara sebagian lain berhadapan dengan kelebihan asupan energi, pola makan yang kurang seimbang, serta aktivitas fisik yang rendah. Dalam konteks ini, makan banyak tidak selalu berarti makan baik.

Asupan gula kerap masuk tanpa disadari

Salah satu bagian yang sering terlewat adalah minuman. Kementerian Kesehatan menganjurkan konsumsi gula tidak melebihi 50 gram per orang per hari atau sekitar empat sendok makan. Garam dianjurkan maksimal 2.000 miligram natrium atau sekitar satu sendok teh, sedangkan lemak sekitar 67 gram atau lima sendok makan minyak per hari.

Masalahnya, gula tidak hanya berasal dari gula yang sengaja ditambahkan ke teh atau kopi. Minuman kemasan, minuman kopi dengan berbagai tambahan, teh manis, sirup, susu dengan tambahan gula, serta sejumlah makanan olahan juga dapat menyumbang asupan gula harian.

Air putih dapat dijadikan minuman utama saat sarapan. Buah utuh juga dinilai lebih baik menjadi bagian menu dibanding menjadikan minuman manis sebagai pendamping rutin. Perubahan tidak harus dilakukan sekaligus; kebiasaan sehat cenderung lebih bertahan ketika dijalankan secara realistis.

“Isi Piringku” sebagai panduan sederhana

Untuk memudahkan penerapan gizi seimbang, Kementerian Kesehatan memperkenalkan panduan “Isi Piringku”. Secara sederhana, sekitar separuh piring diisi sayur dan buah, sedangkan separuh lainnya terdiri atas makanan pokok dan lauk-pauk. Porsi sayur dianjurkan lebih banyak daripada buah, sementara makanan pokok lebih banyak daripada lauk.

Panduan ini membantu keluarga menerapkan komposisi makan tanpa harus menghitung setiap kalori. Yang lebih penting adalah membangun pola dan variasi sederhana: hari ini telur dan tumis kangkung, besok tempe dengan sayur bening dan pepaya, lalu berikutnya ikan dengan sayuran, nasi, dan pisang.

Anak juga dapat dilibatkan, misalnya dengan mengajak mereka memilih buah, mencuci sayuran, menyiapkan bekal, atau menyusun makanan di piring. Pada akhirnya, sarapan sehat tidak ditentukan oleh label mahal pada kemasan, melainkan kebiasaan memilih makanan secara lebih sadar, beragam, dan sesuai kebutuhan tubuh.

Di tengah masih adanya stunting sebesar 19,8 persen dan meningkatnya obesitas pada kelompok dewasa, membangun hubungan yang lebih sehat dengan makanan dapat dimulai dari rumah. Tanpa menu mewah, nasi, telur, tempe, sayur, buah lokal, dan air putih pun dapat menjadi awal yang baik.