BERITA TERKINI
Rumah Singgah Gizi di Pekalongan Beri Layanan Terpadu untuk Balita, dari Skrining hingga Edukasi Orang Tua

Rumah Singgah Gizi di Pekalongan Beri Layanan Terpadu untuk Balita, dari Skrining hingga Edukasi Orang Tua

Pemerintah Kota Pekalongan terus menjalankan upaya penanganan gizi buruk dan stunting pada balita melalui program Rumah Singgah Gizi. Program ini pertama kali dibentuk pada 2012 di Puskesmas Kusumabangsa, dengan konsep layanan terpadu yang melibatkan berbagai tenaga kesehatan.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Pekalongan Puji Winarti melalui Ketua Tim Kesehatan Keluarga dan Gizi, Devi Hardiyanti, menjelaskan bahwa sejak awal layanan Rumah Singgah Gizi melibatkan dokter spesialis anak, psikolog, ahli gizi, hingga dokter umum. Program ini ditujukan untuk menurunkan angka gizi buruk dan stunting, meningkatkan status gizi serta kesehatan anak, sekaligus memperkuat pengetahuan orang tua dalam memenuhi kebutuhan gizi seimbang.

Selain pemantauan pertumbuhan, orang tua juga mendapatkan edukasi keterampilan, termasuk praktik memasak menu MPASI (Makanan Pendamping ASI) sesuai kebutuhan balita. Menurut Devi, antusiasme masyarakat sejak awal cukup tinggi. Dalam setiap sesi, rata-rata kunjungan mencapai 15 hingga 20 balita dengan masalah gizi, dan jumlahnya cenderung meningkat dari tahun ke tahun.

Rumah Singgah Gizi sempat berpindah lokasi karena faktor alam. Saat ini, layanan tersebut beroperasi di Puskesmas Dukuh. Seiring waktu, layanan juga berkembang. Pada 2022, ditambahkan fasilitas fisioterapi bagi balita yang membutuhkan. Anak yang hasil pemeriksaannya memerlukan terapi lanjutan akan dirujuk langsung dari dokter spesialis anak ke fisioterapis.

Rumah Singgah Gizi diselenggarakan rutin dua kali dalam sebulan, yakni pada minggu pertama dan ketiga. Layanan ini terbuka bagi seluruh masyarakat, khususnya bayi dan balita di Kota Pekalongan.

Devi menerangkan, alur layanan dimulai dari skrining awal di puskesmas masing-masing. Jika ditemukan masalah gizi, balita akan dirujuk ke Rumah Singgah Gizi untuk pemeriksaan lebih lanjut. Apabila hasil pemeriksaan menunjukkan perlunya penanganan lanjutan, pasien kemudian dirujuk ke rumah sakit. Seluruh layanan diberikan secara gratis, baik bagi peserta BPJS maupun yang belum memiliki.

“Sekarang program ini juga didukung BPJS dan Universal Health Coverage (UHC). Harapannya, seluruh masyarakat Pekalongan memiliki jaminan kesehatan sehingga tidak ada kendala dalam mengakses layanan,” kata Devi.

Manfaat program ini turut dirasakan warga. Widya Anggraeni, ibu dari Kelurahan Kramatsari, menceritakan pengalamannya saat anaknya lahir dengan berat badan 1,5 kilogram. Ia mengaku sempat merasa minder, namun kemudian termotivasi setelah diminta mengikuti program Rumah Singgah Gizi.

Widya mengatakan, selama mengikuti program ia mendapatkan pendampingan, termasuk belajar memasak menu makanan tambahan, serta bantuan vitamin, susu, dan dukungan lainnya. “Alhamdulillah, saya tidak lagi merasa sendirian,” ujarnya saat ditemui di kegiatan Rumah Singgah Gizi pada 25 September 2025.

Keberadaan Rumah Singgah Gizi menjadi salah satu langkah strategis Pemerintah Kota Pekalongan dalam menekan gizi buruk dan stunting. Melalui layanan komprehensif, edukasi keluarga, dan pendampingan psikologis, program ini diharapkan dapat membantu meningkatkan kesehatan balita di Kota Pekalongan.