Tradisi Festival Qingming di China yang identik dengan ziarah kubur kini memunculkan fenomena baru di kalangan generasi muda. Alih-alih menghabiskan waktu di pusat perbelanjaan atau destinasi wisata populer, sebagian remaja dan mahasiswa justru berbondong-bondong mendatangi makam tokoh sejarah yang mereka kagumi untuk mencari ketenangan emosional atau “healing”.
Fenomena ini menjadi perbincangan setelah berbagai unggahan di media sosial memperlihatkan makam-makam kuno dipenuhi barang-barang yang tidak lazim. Kantor berita Xinhua melaporkan, para pengunjung bukan hanya datang untuk berdoa, tetapi juga meninggalkan “persembahan” kreatif yang bersifat personal dan dikaitkan dengan tokoh yang diziarahi.
Di makam Cao Cao, panglima perang era Dinasti Han yang disebut kerap menderita sakit kepala hebat semasa hidupnya, penggemar meninggalkan paket obat ibuprofen. Sementara di makam penyair Li Bai, para pengagum meletakkan botol-botol minuman beralkohol yang dikaitkan dengan kesukaan sang penyair.
Sejumlah pengunjung memaknai kunjungan itu sebagai cara membangun koneksi baru dengan sejarah. Luo Liting, mahasiswa pascasarjana, mengatakan kepada Xinhua bahwa ia menempuh perjalanan sekitar 1.200 kilometer menuju makam Jenderal Zhou Yu sambil membawa puisi dan bunga persik kering. Ia mengaku mengagumi ketenangan, keanggunan, serta cara hidup tokoh tersebut, terutama ketika menghadapi masa usia 20-an yang menurutnya penuh ketidakpastian.
Antropolog dari Minzu University of China, Zhu Jingjiang, menilai tren ini berakar pada kebangkitan budaya tradisional di kalangan anak muda China, yang turut dipengaruhi film dan drama sejarah. Menurutnya, anak muda di era digital cenderung mengekspresikan diri dengan cara yang lebih ringan dan penuh kasih sayang.
Dalam praktiknya, makam tokoh sejarah juga menjadi ruang “curhat” bagi mereka yang merasa lelah dengan rutinitas pekerjaan atau tekanan studi. Sebagian pengunjung disebut meninggalkan surat berisi keluh kesah dan harapan untuk mendapatkan keteguhan hati seperti tokoh-tokoh yang mereka kagumi.
Tren ini turut berdampak pada situs-situs sejarah yang sebelumnya sepi. Xinhua mengutip kesaksian Zhang Shilin, pengelola situs makam Zhang Juzheng—negarawan terkemuka Dinasti Ming di Provinsi Hubei—yang menyebut jumlah pengunjung meningkat drastis dalam dua tahun terakhir. Ia mengatakan tempat itu dahulu sunyi, namun belakangan semakin banyak orang datang dari jauh untuk memberikan penghormatan.
Tradisi mengunjungi makam tokoh besar untuk mencari inspirasi juga ditemukan di negara lain. Di Jepang, terdapat tradisi Hakamairi untuk menghormati leluhur dan tokoh penting. Japan National Tourism Organization (JNTO) mencatat situs pemakaman seperti Sengaku-ji di Tokyo tetap populer, termasuk di kalangan muda, sebagai tempat mengenang 47 Ronin yang dipandang melambangkan kesetiaan dan keberanian.
Sementara di Eropa, UNESCO menyoroti kompleks pemakaman Père Lachaise di Paris sebagai salah satu situs pemakaman yang paling banyak dikunjungi di dunia. Makam tokoh seperti Oscar Wilde hingga musisi Jim Morrison kerap dipenuhi bunga dan surat dari pengagum lintas negara, memperlihatkan bahwa kunjungan fisik ke makam idola menjadi salah satu cara manusia “berdialog” dengan masa lalu untuk mencari inspirasi dan memahami budaya.

