BERITA TERKINI
Rami Pasta di Surabaya Berawal dari Ide Anak Kelas 3 SD saat Libur Sekolah

Rami Pasta di Surabaya Berawal dari Ide Anak Kelas 3 SD saat Libur Sekolah

SURABAYA — Ide berjualan yang muncul dari seorang anak kelas tiga sekolah dasar saat libur sekolah berkembang menjadi usaha kuliner rumahan bernama Rami Pasta. Usaha ini dijalankan Indah Odivtia bersama anaknya dengan mengandalkan penjualan daring dan sistem produksi yang disesuaikan dengan pesanan.

Indah menceritakan, gagasan tersebut berawal ketika anaknya ingin mencoba berjualan seperti pedagang yang sering dilihatnya di pinggir jalan. Untuk memudahkan pelaksanaan dan menghindari kendala cuaca, Indah menawarkan konsep penjualan secara online. “Anak saya minta dibikinkan usaha, dia pengen jualan,” kata Indah dalam program Muda Kreatif Pro2 RRI Surabaya.

Rami Pasta dipilih karena pasta merupakan makanan favorit anaknya. Indah menyebut, saat anaknya tidak ingin makan atau sedang kurang sehat, pasta kerap menjadi pilihan. Selain itu, keluarga Indah juga memiliki pengalaman menjalankan katering rumahan dan katering pernikahan, sehingga aktivitas usaha sudah akrab di lingkungan keluarga.

Pada tahap awal, Indah mencoba memasarkan produk melalui Threads untuk melihat respons calon pelanggan. Ia menilai platform tersebut lebih sederhana dibanding marketplace maupun layanan pesan antar. Respons yang diterima di luar perkiraan. “Pertama kali buka PO banyak yang masuk, saya juga kaget,” ujar Indah. Pada promosi perdana melalui akun baru, pesanan disebut mencapai sekitar 150 porsi.

Tingginya pesanan membuat anak Indah semakin bersemangat. Dalam dua pekan pertama, ia ikut membantu proses sebelum pesanan dikirim, mulai dari finishing, mengemas, hingga menempelkan stiker. Anak tersebut juga memilih stiker bergambar kucing karena menyukai hewan itu.

Indah mengatakan anaknya belum menetapkan target penjualan maupun pendapatan. Fokusnya lebih pada membuat pelanggan puas. “Yang penting saya buat pelanggan senang,” kata Indah, menggambarkan prinsip yang dipegang anaknya. Menurut Indah, respons positif pelanggan menjadi penyemangat untuk terus mencoba.

Dari sisi produksi, Rami Pasta menggunakan bahan yang juga dikonsumsi keluarga. Saus bolognese dan Alfredo dibuat sendiri untuk menjaga kualitas dan rasa. Beberapa menu juga disesuaikan agar ramah untuk anak-anak, misalnya aglio e olio yang biasanya pedas dibuat tanpa rasa pedas untuk pelanggan anak.

Indah berupaya mempertahankan harga yang disebut terjangkau meski sejumlah bahan baku mengalami kenaikan. Ia mencontohkan kenaikan harga ayam, sementara bahan premium tetap digunakan. “Tantangannya adalah kami tetap bisa survive dengan HPP yang segitu,” ujarnya.

Ia menilai usaha makanan tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan memasak. Pelaku usaha, menurutnya, perlu memahami harga, strategi penjualan, pengelolaan biaya, serta kebutuhan pelanggan. Pemahaman itu mulai diperkenalkan kepada anaknya sejak menjalankan Rami Pasta.

Awalnya, Rami Pasta menerapkan sistem pre-order untuk pesanan akhir pekan. Seiring strategi produksi terbentuk, pemesanan kini dapat dilakukan setiap hari. Produksi harian disesuaikan dengan stok yang disiapkan; jika porsi habis, pesanan ditutup dan pelanggan diarahkan untuk memesan pada hari berikutnya.

Dalam sehari, Indah menyebut dapat menyiapkan sekitar 150 porsi sesuai kebutuhan. Pesanan dalam jumlah besar banyak datang dari kelompok pegawai kantor. “Sekali pesan mereka bisa kadang 30, kadang rame-rame,” tutur Indah. Pola pesanan tersebut membantu pengelolaan produksi karena dapat dimasak secara bersamaan.

Bagi Indah, perjalanan Rami Pasta menunjukkan bahwa ide anak dapat menjadi pintu masuk pembelajaran kewirausahaan. Anak belajar terlibat dalam produksi, pelayanan pelanggan, pengemasan, hingga strategi penjualan, sekaligus memahami tanggung jawab dalam menjalankan usaha.