Seusai salat tarawih, aktivitas warganet di media sosial dan grup percakapan ramai oleh satu kata kunci yang sama: “link video mukena pink viral”. Di berbagai platform, tautan dengan judul sensasional beredar cepat, termasuk yang mengklaim menyediakan “versi tanpa sensor” hingga “durasi penuh”. Rasa penasaran membuat banyak orang terdorong untuk mengklik.
Di tengah derasnya peredaran tautan tersebut, pakar keamanan digital mengingatkan adanya potensi risiko. Menurut mereka, tren viral semacam ini kerap dimanfaatkan pelaku kejahatan siber untuk menyebarkan malware dan melakukan phishing, yakni praktik penipuan digital yang dapat berujung pada pencurian data pribadi pengguna.
Peringatan itu menekankan bahwa ancaman utama bukan semata pada isi video yang dibicarakan, melainkan pada tautan yang beredar dan cara penyebarannya.
Adapun video yang ramai diperbincangkan disebut tidak berisi adegan sensasional. Rekaman tersebut memperlihatkan seorang perempuan mengenakan mukena berwarna merah muda di sebuah ruangan sederhana, dengan suasana tenang yang menyerupai aktivitas ibadah biasa.
Namun, sebuah detail memicu spekulasi di kalangan warganet. Pada bagian tertentu terlihat sensor berbentuk kotak putih di area dada. Keberadaan sensor itu kemudian memunculkan dugaan bahwa ada bagian video yang disembunyikan.
Dalam waktu singkat, narasi lain pun berkembang. Sejumlah akun anonim mulai menyebut adanya versi video lain yang “tanpa sensor” atau memiliki durasi lebih panjang, sehingga mendorong pencarian dan peredaran tautan yang semakin masif.

