BERITA TERKINI
Puasa Ramadhan Dinilai Dapat Memicu Autofagi, Ini Dampaknya bagi Kesehatan

Puasa Ramadhan Dinilai Dapat Memicu Autofagi, Ini Dampaknya bagi Kesehatan

Puasa yang dijalankan umat Muslim selama bulan Ramadhan tidak hanya berkaitan dengan aspek spiritual, tetapi juga dinilai memiliki manfaat kesehatan. Salah satu proses yang dapat dipicu oleh puasa adalah autofagi, mekanisme alami tubuh untuk membersihkan dan mendaur ulang sel-sel yang rusak serta menggantinya dengan komponen sel yang baru.

Dosen gizi kesehatan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM), Dr. Mirza Hapsari Sakti Titis Penggalih, S.Gz., Dietisien, MPH, menjelaskan bahwa autofagi membutuhkan waktu sekitar 12–16 jam untuk berlangsung. Menurutnya, durasi puasa Ramadhan yang umumnya berkisar 13–14 jam, bahkan lebih panjang di sejumlah negara, dinilai cukup untuk memicu proses tersebut. “Durasi puasa dapat memicu autofagi di dalam tubuh manusia. Sebab, autofagi membutuhkan sekitar 12-16 jam, sementara puasa Ramadhan bisa 13-14 jam, bahkan di beberapa negara bisa lebih panjang,” ujarnya, Rabu (4/3) di Kampus UGM.

Mirza menambahkan, autofagi berperan dalam detoksifikasi sekaligus perbaikan sel-sel tubuh yang mengalami kerusakan. Ia menyebut sejumlah penelitian juga mengaitkan mekanisme ini dengan stabilitas kadar gula darah, peningkatan efektivitas dan sensitivitas insulin, penurunan berat badan, serta penurunan kadar kolesterol. “Autofagi tersebut bisa menjadi sebuah detoksifikasi dan perbaikan sel-sel yang rusak. Mampu menstabilkan gula darah, memberikan efektivitas kerja dan sensitivitas insulin, mengurangi berat badan, dan menurunkan kadar kolesterol,” jelasnya.

Ia juga membedakan puasa Ramadhan dengan intermittent fasting (puasa intermiten). Keduanya disebut sama-sama memberikan manfaat kesehatan, tetapi memiliki karakteristik berbeda, terutama terkait penurunan berat badan. Pada intermittent fasting, penurunan berat badan umumnya terjadi karena pemanfaatan cadangan lemak tubuh secara lebih optimal. Sementara pada puasa Ramadhan, penurunan berat badan tidak hanya terkait pembakaran lemak, tetapi juga dipengaruhi berkurangnya asupan cairan selama berpuasa. “Kalau IF, berat badan turun karena pemanfaatan lemak sisa di tubuh, sementara puasa Ramadhan karena kekurangan cairan serta pemanfaatan lemak tubuh,” terangnya.

Dari sisi metabolisme glukosa, Mirza menyampaikan manfaat puasa terhadap sensitivitas insulin disebut konsisten pada berbagai kelompok usia dan kondisi kesehatan. Pada individu sehat, puasa membantu menjaga sensitivitas insulin tetap optimal. Pada kondisi pradiabetes, puasa dapat membantu regulasi glukosa sehingga insulin bekerja lebih maksimal. Namun bagi penderita diabetes tipe 2, ia menekankan perlunya perhatian khusus, terutama terkait konsumsi obat dan pengaturan pola makan.

Ia mengingatkan pasien diabetes yang tetap mengonsumsi obat tetapi tidak mengontrol pola makan saat berbuka dan sahur berisiko mengalami hipoglikemia. “Yang rutin minum obat, tetapi menjalankan puasa dan makanannya tidak terkontrol, justru akan berisiko terkena hipoglikemi. Maka, kalau divonis diabetes, jangan cuma fokus sama obat tetapi juga dengan pola makannya,” tegasnya.

Terkait perubahan pola tidur dan waktu makan selama Ramadhan, Mirza menilai hal itu tidak perlu terlalu dikhawatirkan. Meski ada pergeseran jam biologis, kondisi tersebut bersifat sementara karena berlangsung sekitar satu bulan. “Memang saat bulan puasa ada perbedaan durasi tidur dan makanan. Namun, selama itu tidak perlu khawatir ada perubahan ritme sirkadian, karena waktunya cuma satu bulan,” ujarnya.

Dari sisi psikologis, ia menyebut puasa dapat berpengaruh terhadap stabilitas emosi. Kondisi yang dikenal sebagai sugar rush atau respons reaktif akibat asupan gula berlebihan dapat diminimalkan karena aliran glukosa lebih terkendali selama puasa. Ia mengatakan, berkurangnya lonjakan gula darah dapat membuat seseorang lebih tenang dan tidak mudah tersulut emosi. “Dengan puasa, banjir kanal glukosanya lebih terkendali, jadi kita bisa lebih tenang dan otak kekurangan glukosa jadi lebih sabar, tidak tersulut emosi,” ungkapnya.

Dalam hal pemenuhan gizi, Mirza menekankan puasa pada dasarnya tidak mengurangi kebutuhan nutrisi, melainkan menggeser waktu konsumsi makanan. Karena itu, ia mengingatkan pentingnya memastikan asupan zat gizi seimbang dan kompleks saat sahur maupun berbuka. “Pada Ramadan bisa tetap memenuhi kebutuhan gizi karena hanya jamnya yang berbeda. Yang jadi masalah adalah ketidaktahuan kita untuk memenuhi gizi kita,” tuturnya.

Kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia, menurutnya, memerlukan perhatian khusus. Anak-anak yang masih dalam masa pertumbuhan diperbolehkan berpuasa, tetapi perlu pendampingan orang tua, terutama terkait tata cara dan pemenuhan gizi. Sementara lansia dengan kondisi kesehatan tertentu, misalnya sering pusing atau lemah, disarankan tidak memaksakan diri untuk berpuasa. “Selain anak-anak, lansia juga harus diperhatikan apabila sudah ada gejala kesehatan, seperti pusing, lemah, maka tidak dianjurkan untuk berpuasa,” katanya.

Mirza juga menyebut puasa dapat menjadi proses metabolik alami karena perubahan parameter kesehatan dapat terlihat secara terukur, misalnya melalui pemeriksaan medical check-up sebelum dan setelah Ramadhan. “Puasa bisa menjadi riset metabolik, karena ada autofagi, sehingga metabolik yang tidak dibutuhkan itu bisa dibuang,” jelasnya.

Meski demikian, ia mengingatkan agar puasa tidak dilakukan berkepanjangan tanpa pertimbangan medis. Puasa terus-menerus dalam jangka panjang berisiko meningkatkan asam lambung, memicu gastroesophageal reflux disease (GERD), menyebabkan perubahan hormonal, hingga menurunkan berat badan secara tidak sehat. “Puasa berkepanjangan tidak disarankan. Semisal kita berpuasa terus-terusan, kenaikan asam lambung hingga GERD, hingga perubahan hormonal,” pungkasnya.