BERITA TERKINI
Protes Hong Kong Masuki Hari ke-100, Pendemo Gunakan Beragam Cara Kreatif untuk Bertahan

Protes Hong Kong Masuki Hari ke-100, Pendemo Gunakan Beragam Cara Kreatif untuk Bertahan

Hong Kong masih diguncang rangkaian protes besar pro-demokrasi yang pada tanggal ini memasuki hari ke-100. Aksi yang berlangsung rutin hampir setiap pekan membuat para aktivis mengadopsi berbagai cara kreatif untuk menjaga gerakan tetap menyala.

Sejumlah metode unik digunakan, mulai dari flashmob hingga rantai manusia. Berikut lima cara yang menonjol dalam rangkaian aksi tersebut.

1. Flashmob
Musik menjadi bagian penting dalam demonstrasi demokrasi di Hong Kong. Sejumlah lagu kerap dinyanyikan, mulai dari himne Kristen seperti “Nyanyikan Haleluya untuk Tuhan”, “Apakah Anda mendengar orang-orang bernyanyi?”, hingga lagu populer seperti tema “Les Miserables.”

Dalam dua minggu terakhir, lagu baru berjudul “Glory to Hong Kong” juga menggema. Lagu yang ditulis komposer anonim itu menjadi viral, dengan lirik bernada menantang yang berulang kali terdengar dalam aksi protes, konser flashmob malam di mal-mal, hingga pertandingan sepak bola.

2. Pertunjukan laser
Laser pointer awalnya digunakan oleh pengunjuk rasa garis depan untuk menunjukkan posisi polisi, mengalihkan perhatian petugas, serta mencegah orang mengambil foto atau video. Penggunaannya kemudian meluas setelah seorang pemimpin siswa ditangkap karena membawa 10 pena laser di tasnya, dengan tuduhan “kepemilikan senjata ofensif.”

Sejak itu, demonstran menggelar “pertunjukan cahaya” di luar kantor polisi dan dalam berbagai pertemuan publik. Saat malam tiba, sorotan laser memberi suasana yang mencolok di tengah jalannya protes.

3. Rantai manusia
Aksi rantai manusia mulai diadopsi pada akhir Agustus, bertepatan dengan peringatan 30 tahun Jalan Baltik—ketika lebih dari satu juta orang menggandeng tangan dalam demonstrasi anti-Soviet. Massa di Hong Kong kemudian menerapkan cara serupa.

Dalam beberapa pekan terakhir, puluhan ribu orang turut ambil bagian membentuk rantai manusia di berbagai titik kota, termasuk di lokasi-lokasi perbukitan seperti Peak dan Lion Rock. Siswa sekolah menengah juga disebut membentuk rantai manusia setiap pagi sebelum kelas.

4. Penggalangan dana
Gerakan pro-demokrasi juga memanfaatkan penggalangan dana online. Dua kampanye berhasil mengumpulkan lebih dari HK$ 21 juta (US$ 2,7 juta) untuk memasang iklan di surat kabar internasional utama.

Seorang koordinator kampanye yang memperkenalkan diri sebagai Taylor mengatakan kepada AFP bahwa iklan internasional dipilih untuk “menembus filter media dan menunjukkan kepada dunia kebenaran di bawah propaganda pemerintah.”

Kampanye lain menggalang dana untuk membangun patung setinggi empat meter bernama “Lady Liberty Hong Kong” serta menyediakan bantuan hukum bagi sekitar 1.400 demonstran yang ditangkap.

5. Beradaptasi dengan prinsip ‘menjadi air’
Pendekatan lain yang menonjol adalah strategi beradaptasi yang terinspirasi filosofi Bruce Lee, “menjadi air.” Dengan cara ini, para pemrotes menggunakan berbagai dalih untuk tetap menggelar aksi massal meski tanpa izin otoritas.

Dalam beberapa kesempatan, massa berkumpul di pusat perbelanjaan dengan alasan melakukan “belanja massal.” Ada pula kelompok yang memilih taman sambil membawa perlengkapan piknik, disertai atribut kampanye. Jika diminta bubar, mereka menyatakan tengah bertamasya, bukan berdemo.

Selain itu, sebagian massa juga berkumpul di lingkungan keagamaan seperti gereja, dengan menyelipkan slogan pro-demokrasi dalam balutan himne.