BERITA TERKINI
Phu Quoc Angkat Kuliner Desa Nelayan Menjadi Daya Tarik Wisata

Phu Quoc Angkat Kuliner Desa Nelayan Menjadi Daya Tarik Wisata

Persaingan antar destinasi wisata kini tidak lagi bertumpu pada keindahan alam atau pantai semata. Di Pulau Phu Quoc, kuliner lokal mulai dipandang sebagai daya tarik baru yang dinilai mampu memperpanjang masa tinggal wisatawan, meningkatkan pengeluaran, sekaligus membentuk identitas pariwisata yang lebih khas.

Musim panas ini, sejumlah pelaku bisnis pariwisata di Phu Quoc meningkatkan investasi pada produk wisata berbasis pengalaman yang terkait budaya lokal. Sejumlah resor disebut mulai menggabungkan bahan-bahan setempat dan kisah masyarakat pulau ke dalam perjalanan eksplorasi wisatawan, alih-alih menyajikan menu internasional yang seragam seperti di banyak destinasi lain.

Di tengah penguatan arah tersebut, majalah perjalanan Amerika, Condé Nast Traveler, baru-baru ini memasukkan Phu Quoc dalam daftar pulau terindah di dunia. Media itu menyoroti pantai berpasir putih, lokasi menyelam terumbu karang, serta fasilitas resor di pulau tersebut. Condé Nast Traveler juga menyebut pantai yang masih alami seperti Bai Sao dan Bai Truong, serta lokasi menyelam terumbu karang yang dinilai termasuk yang terbaik di kawasan.

Upaya mengangkat cita rasa lokal terlihat di Premier Residences Phu Quoc Emerald Bay. Wakil kepala koki resor tersebut, Huynh Kim Canh, mengatakan restoran Herring Bar mengambil inspirasi dari makanan para nelayan di desa-desa nelayan untuk merespons tren pesta barbekyu di tepi laut.

Berlokasi di Pantai Khem (An Thoi) yang terbuka untuk umum, restoran itu tidak hanya melayani tamu hotel, tetapi juga pengunjung dari luar. Salah satu menu yang ditawarkan, “Cita Rasa Laut”, dibangun dari bahan khas Phu Quoc seperti saus ikan, lada hijau, makanan laut segar, dan rempah-rempah lokal, namun disajikan dengan gaya modern.

Menurut Canh, menu tersebut mendapat sambutan baik dari wisatawan. Dengan pengalaman lebih dari 15 tahun, ia menekankan bahwa yang paling penting bukan menciptakan hidangan baru, melainkan menjaga keaslian rasa lokal. Ia menyebut setiap daerah memiliki bahan khas untuk “menceritakan sebuah kisah”, dan bagi Phu Quoc kisah itu hadir lewat cita rasa saus ikan, aroma lada hijau, makanan laut segar, serta gaya hidup desa nelayan pesisir.

Phu Quoc selama ini dikenal lewat hidangan laut segar. Tiga hidangan yang disebut wajib dicoba adalah kepiting Ham Ninh, salad ikan herring, dan landak laut. Namun kini, wisatawan juga dapat memilih lebih banyak varian hidangan yang diperkaya bahan lokal, seiring tren yang diikuti restoran dan resor di pulau tersebut.

Peran kuliner sebagai “aset lunak” destinasi juga tercermin dalam laporan tren liburan “Taste of Home” dari Booking.com, perusahaan perjalanan online. Laporan yang melibatkan lebih dari 8.000 wisatawan di kawasan Asia-Pasifik itu menyimpulkan makanan menjadi faktor kunci yang memengaruhi pengalaman wisatawan di berbagai jenis rumah liburan, sekaligus berpengaruh terhadap keputusan perjalanan.

Secara spesifik, 84% wisatawan Vietnam disebut sering memilih destinasi berdasarkan kuliner lokal, dan 48% menyatakan dorongan untuk menemukan makanan khas daerah menjadi motivasi utama dalam keputusan perjalanan mereka.

Pelaku bisnis pariwisata menilai tren wisatawan saat ini tidak lagi sebatas menikmati makanan lezat, tetapi juga memahami asal-usul bahan, cerita budaya, dan gaya hidup masyarakat setempat. Kondisi ini membuka peluang bagi aktivitas yang sudah dikenal di Phu Quoc—mulai dari desa nelayan, pembuatan saus ikan, produksi lada, hingga hasil laut—untuk dikemas menjadi produk wisata bernilai tambah.

Selain mendatangkan pendapatan bagi restoran dan hotel, pengembangan kuliner juga disebut berkontribusi menghubungkan sektor ekonomi lokal seperti perikanan, pertanian, pengolahan makanan, dan jasa, sehingga membentuk rantai nilai pariwisata yang lebih lengkap. Pendekatan serupa juga dipilih banyak destinasi di dunia ketika ingin membangun merek pariwisata berbasis identitas, bukan hanya sumber daya alam.