Surabaya mengalami penurunan penjualan di sektor kafe dan restoran sebesar 20-30 persen sejak Agustus hingga September 2018. Kondisi tersebut menjadi perhatian pelaku usaha kuliner di wilayah Jawa Timur.
Ketua Asosiasi Pengusaha Kafe dan Restoran Indonesia (Apkrindo) Jawa Timur, Tjahjono, menjelaskan bahwa penurunan ini terjadi meskipun biasanya di tiga bulan terakhir tahun masyarakat justru mengeluarkan pengeluaran lebih banyak dibandingkan semester pertama. Namun, pada semester kedua tahun ini terjadi kecenderungan penurunan.
Dua Faktor Penyebab Penurunan Penjualan
- Meningkatnya Bisnis Kuliner Online
Menurut Tjahjono, bisnis kuliner berbasis online semakin berkembang pesat. Berbeda dengan restoran konvensional yang harus menanggung biaya pajak dan sewa tempat, pengusaha makanan online memiliki pengeluaran yang lebih rendah. Selain itu, kemudahan layanan antar makanan melalui aplikasi membuat konsumen lebih memilih memesan secara daring daripada datang langsung ke restoran. - Turunnya Daya Beli Masyarakat
Faktor kedua yang mempengaruhi penurunan penjualan adalah menurunnya daya beli masyarakat. Hal ini tercermin dari berkurangnya jumlah pengunjung mal pada hari kerja, yang menjadi indikator aktivitas ekonomi dan konsumsi masyarakat di sektor hiburan dan kuliner.
Situasi ini menunjukkan adanya perubahan pola konsumsi masyarakat yang berdampak signifikan terhadap kinerja kafe dan restoran di Surabaya.