BERITA TERKINI
Pemkot Tangsel Targetkan 108 Pos Gizi hingga 2029 untuk Perkuat Penanganan Stunting

Pemkot Tangsel Targetkan 108 Pos Gizi hingga 2029 untuk Perkuat Penanganan Stunting

Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Tangsel) menargetkan pembentukan 108 pos gizi hingga 2029 sebagai upaya memperkuat penanganan masalah gizi, khususnya stunting. Saat ini, pos gizi yang telah berdiri berjumlah 54 dan tersebar di setiap kelurahan.

Jumlah tersebut ditargetkan terus bertambah. Pada tahun ini, Pemkot Tangsel menganggarkan pembentukan tujuh pos gizi baru. Penambahan akan dilakukan secara bertahap setiap tahun untuk mengejar target dua pos gizi di setiap kelurahan.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kota Tangsel, Lilis Suryani, mengatakan pos gizi atau posyandu tidak hanya berfungsi sebagai layanan kesehatan, tetapi juga sebagai sarana edukasi bagi orang tua untuk memenuhi kebutuhan gizi serta memantau tumbuh kembang anak.

Menurut Lilis, penanganan masalah gizi memerlukan keterlibatan bersama antara pemerintah, unsur kewilayahan, tenaga kesehatan, dan masyarakat. Ia juga meminta orang tua tidak berkecil hati ketika anak terdeteksi mengalami masalah gizi, karena deteksi dini memungkinkan penanganan lebih cepat untuk mencegah kondisi memburuk.

“Kalau tidak terdeteksi, nanti bisa berkelanjutan lebih parah lagi. Jadi, kita bersama-sama menyelesaikan masalah itu,” kata Lilis saat peresmian Pos Gizi Gemintang di Kelurahan Pondokpucung, Kecamatan Pondokaren, Selasa, 20 Oktober 2026.

Dalam kesempatan itu, Lilis menyebut kasus stunting di Kelurahan Pondokpucung menjadi perhatian pemerintah. Berdasarkan data yang disampaikan dalam kegiatan tersebut, terdapat 26 kasus stunting, dengan kasus baru selama Januari hingga Agustus mencapai 20 kasus.

Perhatian juga diberikan kepada ibu hamil yang mengalami kekurangan energi kronis dan anemia. Di wilayah tersebut, tercatat 30 ibu hamil mengalami kekurangan energi kronis. Kondisi ibu selama kehamilan dinilai perlu mendapat pengawasan agar tidak berdampak terhadap status gizi bayi yang dilahirkan.

Untuk mendukung penanganan masalah gizi, kegiatan pos gizi diisi dengan pemberian makanan tambahan kepada balita selama tiga bulan. Kader pos gizi juga memberikan edukasi kepada orang tua, termasuk penyusunan menu makanan bergizi, pemenuhan kebutuhan nutrisi, serta pemantauan tumbuh kembang anak.

“Dengan begitu, orang tua diharapkan mampu menerapkan pengetahuan tersebut secara mandiri di rumah,” ujar Lilis.

Pemkot Tangsel juga menjajaki kerja sama dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) agar pemberian makanan tambahan dapat berlanjut setelah program yang dianggarkan selama tiga bulan berakhir.

Camat Pondokaren, Hendra, mengapresiasi sinergi berbagai pihak dalam menjalankan program pelayanan kesehatan masyarakat. Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah, tenaga kesehatan, tokoh masyarakat, hingga pengurus lingkungan menjadi kunci agar manfaat program dapat dirasakan secara optimal.

“Dalam melaksanakan program-program pemerintah, ini adalah kerja bersama. Ibu-ibu harus mendukung, masyarakat juga harus mendukung dan membantu kita bekerja sama. Memang harus ada kolaborasi dari semuanya supaya kebermanfaatan ini benar-benar dirasakan masyarakat,” ujarnya.

Hendra menambahkan, koordinasi antara camat, lurah, pengelola SPPG, ketua RT dan RW, serta pemangku kepentingan lainnya perlu terus diperkuat agar persoalan di lapangan bisa ditangani bersama. Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga kekompakan dan semangat kebersamaan dalam pelayanan publik.

Di tempat yang sama, Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Tangsel, Syahlan King Syahnan Siregar, menekankan bahwa masa balita merupakan periode penting karena pertumbuhan fisik, perkembangan otak, kemampuan belajar, dan pembentukan keterampilan dasar berlangsung pesat. Karena itu, anak perlu memperoleh asupan gizi yang cukup, pola asuh yang tepat, stimulasi sesuai usia, serta pemantauan pertumbuhan dan perkembangan secara berkala.

“Pos gizi bukan hanya tempat untuk memberikan makanan tambahan kepada anak. Pos gizi juga menjadi ruang belajar, ruang pengasuhan, dan ruang kolaborasi bagi keluarga,” katanya.

Syahlan menjelaskan, melalui program tersebut balita mendapatkan makanan dengan prinsip gizi seimbang dan sumber protein yang cukup. Selain itu, dilakukan pemantauan berat badan, tinggi badan, kondisi kesehatan, serta stimulasi tumbuh kembang. Sementara itu, orang tua mendapatkan edukasi mengenai praktik pemberian makan yang tepat, mulai dari pemilihan bahan makanan, cara pengolahan, porsi, tekstur makanan sesuai usia, hingga menciptakan suasana makan yang positif.

“Dengan pendampingan tersebut, orang tua diharapkan tidak hanya mengandalkan makanan yang diberikan selama kegiatan pos gizi, tetapi juga mampu menerapkan pengetahuan tersebut secara berkelanjutan di rumah,” ujarnya.

Peresmian pos gizi di tujuh wilayah kecamatan pada tahun ini disebut menjadi bagian dari komitmen pemerintah untuk memperluas jangkauan intervensi gizi bagi masyarakat. Melalui penguatan program tersebut, Pemkot Tangsel berharap penanganan stunting dan masalah gizi lainnya dapat dilakukan lebih optimal, menekan munculnya kasus baru, serta meningkatkan kualitas kesehatan ibu dan anak di Kota Tangsel.