Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono menilai reaktivasi Bandara Internasional Supadio berpotensi memberi dampak langsung bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Pontianak. Menurutnya, kehadiran wisatawan dapat menggerakkan berbagai sektor usaha, termasuk pedagang oleh-oleh dan pelaku kuliner.
“Kehadiran turis juga memberi manfaat langsung pada pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), termasuk pedagang oleh-oleh, kuliner dan lainnya,” kata Edi usai peresmian reaktivasi Bandara Internasional Supadio, dikutip dari laman Pemerintah Kota Pontianak pada 4 Juni 2025.
Edi menambahkan, meningkatnya jumlah kedatangan diyakini akan mendorong perputaran uang di kota. Ia menilai peluang dari reaktivasi bandara tidak terbatas pada sektor pariwisata, tetapi juga dapat memperkuat ekonomi masyarakat secara lebih luas.
“Semakin banyak yang datang, maka perputaran uang di kota ini akan meningkat. Ini bukan hanya peluang bagi sektor pariwisata saja, tapi juga penguatan ekonomi masyarakat secara menyeluruh,” ujarnya.
Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten Kubu Raya—wilayah tempat Bandara Supadio berada—juga menyatakan kesiapan untuk memanfaatkan momentum tersebut. Wakil Bupati Kubu Raya Sukiryanto menegaskan pentingnya peran UMKM agar aktif mengambil peluang dari status internasional bandara.
“Kami dari Kabupaten Kubu Raya sendiri sangat berharap ini menjadi bandara internasional. Dengan ini, kami mempersiapkan untuk membenahi diri. Pertama, berharap ada kunjungan wisata nanti, paling tidak kita mempersiapkan untuk UMKM yang ikut proaktif di bandara ini,” kata Sukiryanto, dikutip dari laman Pontianak Informasi pada 5 Juni 2025.
Pernyataan kedua kepala daerah tersebut menunjukkan perhatian pemerintah daerah terhadap kesiapan ekosistem UMKM di sekitar bandara. Reaktivasi rute internasional dinilai perlu diikuti langkah-langkah yang memastikan pelaku usaha lokal dapat ikut merasakan manfaat dari meningkatnya arus kunjungan.

