Di tengah persaingan bisnis kuliner di media sosial, mengunggah foto makanan saja dinilai belum cukup untuk menarik perhatian calon pembeli. Pemilik usaha Penjual Cemilan Sanggau, Novia Purna Ningsih, menyebut ia menyusun konten berdasarkan tujuan, mulai dari membangun rasa penasaran hingga mendorong audiens melakukan pembelian.
Novia mengatakan media sosial, terutama Instagram, sudah dimanfaatkannya sejak awal menjalankan usaha. Menurutnya, Instagram bukan hanya tempat menawarkan produk, tetapi juga membantu membangun identitas dan citra bisnis di hadapan calon konsumen.
Ia menjelaskan, ada tiga tipe konten yang biasa digunakan. Pertama, visual content yang bertujuan membuat orang penasaran dan mengenal produk. Kedua, engagement content untuk mengisi konten harian dengan hal-hal yang lebih ringan dan menarik. Ketiga, promotional content yang digunakan untuk mengarahkan audiens menjadi pelanggan.
“Saya biasanya pakai tiga tipe konten, pertama visual content yang tujuannya bikin orang penasaran dan tahu tentang produk kita, kemudian engagement content untuk mengisi konten harian dengan hal-hal yang seru. Sisanya promotional content yang paling sering digunakan untuk mengarahkan audience menjadi customer,” kata Novia dalam Obrolan Ekonomi Digital RRI Sanggau, Jumat, 18 September 2026.
Menurut Novia, setiap jenis konten memiliki fungsi berbeda sehingga tidak semuanya harus berisi promosi langsung. Konten visual dipakai untuk memperkenalkan produk, sementara konten engagement dikemas lebih santai agar akun bisnis tetap aktif dan mampu menjaga perhatian audiens.
Ia juga membagikan pendekatan yang digunakan pada konten promosi. “Kalau promotional content, di tiga detik pertama saya langsung menunjukkan produk yang sedang direview secara close up, karena itu yang paling banyak bikin orang closing. Sedangkan engagement content lebih ke konten seru-seruan, tetapi tetap saya selipkan produk walaupun hanya beberapa detik,” ungkapnya.
Selain variasi konten, Novia menilai konsistensi membuat konten menjadi bagian penting dari strategi promosi. Ia mengatakan tidak selalu membatasi diri pada konten yang serius, karena konten sederhana dan mengikuti hal yang sedang ramai dapat membantu mempertahankan perhatian audiens.
Novia menambahkan, promosi melalui media sosial menuntut kemauan untuk terus belajar dan mengikuti tren. Ia mengaku kerap mencari inspirasi melalui TikTok, termasuk mempelajari resep serta melihat jenis makanan yang sedang menarik perhatian masyarakat untuk kemudian dikembangkan menjadi produk.
“Dari awal jualan, saya memang sangat memanfaatkan media sosial, terutama Instagram, karena paling mudah untuk dipahami dan untuk branding. Walaupun kontennya kadang receh, enggak apa-apa, yang penting ada konten yang menarik perhatian dan tetap ada produk Fia di dalamnya,” ujarnya.
Ia menilai strategi promosi digital tidak harus dilakukan dengan menawarkan produk secara terus-menerus. Dengan mengombinasikan konten informatif, interaktif, dan promosi secara konsisten, pelaku UMKM dapat membangun kehadiran bisnis sekaligus memperluas peluang menjangkau calon pelanggan.