BERITA TERKINI
Pekan Gizi dan Pembangunan Serukan Pola Makan Sehat, Kurangi Pemborosan, dan Biasakan Baca Label

Pekan Gizi dan Pembangunan Serukan Pola Makan Sehat, Kurangi Pemborosan, dan Biasakan Baca Label

Institut Gizi Nasional Vietnam menegaskan pentingnya penerapan pola makan sehat dan gaya hidup aktif melalui Pekan “Gizi dan Pembangunan”, rangkaian kegiatan memperingati Hari Pangan Sedunia yang jatuh pada 16 Oktober. Dalam konferensi pers pada 19 Oktober, Wakil Direktur Institut Gizi Nasional, Dr. Nguyen Hong Truong, menyampaikan bahwa pekan ini membawa pesan “Menginovasi sistem pangan menuju keberlanjutan, menerapkan pola makan sehat untuk kesehatan hari ini dan esok.”

Melalui kegiatan tersebut, masyarakat didorong meningkatkan kualitas makanan keluarga, memastikan keamanan pangan, serta mengurangi pemborosan. Upaya ini dapat dilakukan dengan membiasakan konsumsi makanan beragam, mengombinasikan kelompok makanan secara seimbang, memanfaatkan sumber pangan lokal, dan menerapkan metode memasak yang tepat.

Menurut Dr. Nguyen Hong Truong, meningkatkan kualitas makanan tidak selalu berarti memilih bahan pangan mahal atau menaikkan pengeluaran. Keluarga dapat menyiasatinya dengan menyusun rencana makan, berbelanja sesuai kebutuhan, mengendalikan biaya, dan menghindari pemborosan. Pola makan juga perlu disesuaikan dengan usia, kondisi kesehatan, tingkat aktivitas, serta kemampuan ekonomi. Bagi mereka yang memiliki kondisi medis atau kebutuhan khusus, disarankan mencari nasihat profesional.

Ia menambahkan, upaya membangun kebiasaan makan sehat tidak hanya menjadi tanggung jawab individu. Sekolah, penyedia makanan, pelaku usaha, dan lembaga pengatur dinilai perlu bekerja sama agar masyarakat dapat mengakses dan mempertahankan kebiasaan makan yang lebih sehat.

Pekan ini juga menekankan penggunaan sumber daya pangan secara rasional sebagai tanggung jawab bersama produsen, pemasok, lembaga jasa makanan, dan konsumen. Di tingkat rumah tangga, langkah praktis yang disarankan antara lain memeriksa persediaan sebelum membeli, merencanakan menu dan jumlah belanja yang sesuai, mengatur makanan berdasarkan tanggal kedaluwarsa, serta menyiapkan makanan secukupnya. Perubahan tersebut dianjurkan dilakukan secara serentak sejak tahap pembelian, penyimpanan, hingga konsumsi, bukan hanya menangani kelebihan makanan ketika sudah terjadi.

Untuk kantin sekolah, institusi, dan usaha katering, peninjauan menu disarankan disertai pencatatan sisa makanan serta pengumpulan umpan balik pengguna. Target pengurangan limbah ditekankan harus sejalan dengan pemenuhan kualitas gizi, bukan sekadar mengurangi jumlah makanan atau mengecilkan porsi.

Pesan lain yang disoroti adalah bahwa pengurangan pemborosan harus selalu sejalan dengan keamanan pangan. Masyarakat diingatkan agar tidak mengonsumsi makanan yang menunjukkan tanda pembusukan atau tidak memenuhi persyaratan penyimpanan hanya demi menghemat biaya.

Pekan “Nutrisi dan Pembangunan” 2026 juga menyerukan upaya bersama keluarga, sekolah, bisnis, sektor kesehatan, dan lembaga pengatur untuk membangun lingkungan pangan yang aman dan sehat. Seruan itu mencakup peningkatan kualitas makanan dan transparansi informasi, pengurangan pemborosan, dukungan akses layanan gizi, promosi kebiasaan makan sehat, serta penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kesehatan masyarakat.

Kepala Departemen Gizi Masyarakat di Institut Gizi Nasional Vietnam, Dr. Hoang Thi Duc Ngan, memaparkan bahwa penyakit tidak menular menyumbang sekitar 78% dari seluruh kematian akibat berbagai penyebab. Survei nasional faktor risiko penyakit tidak menular menunjukkan konsumsi garam orang dewasa usia 18–69 tahun rata-rata 8,1 gram per hari, lebih tinggi dibanding rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia yang menyarankan kurang dari 5 gram per hari. Pada kelompok usia yang sama, prevalensi kelebihan berat badan dan obesitas tercatat 19,5%. Sementara itu, angka kelebihan berat badan dan obesitas pada anak meningkat 2,2 kali lipat pada periode 2010–2020.

Dalam konteks tersebut, transparansi informasi gizi dipandang penting untuk membantu masyarakat menentukan pilihan pangan. Surat Edaran 30/2026/TT-BYT yang berlaku mulai 10 Juli 2026 memberikan panduan pencantuman bahan dan nilai gizi pada label makanan, sebagai dasar penyajian informasi yang jelas dan konsisten.

Agar informasi pada label dimanfaatkan secara efektif, konsumen didorong menerapkan langkah “Baca label – Pahami dengan benar – Bandingkan – Pilih dengan tepat.” Masyarakat juga diingatkan untuk memperhatikan nilai gizi yang ditampilkan per 100 gram, 100 mililiter, per porsi, atau per kemasan; tidak menentukan pilihan hanya berdasarkan satu zat gizi atau iklan; memverifikasi informasi dari sumber resmi; serta mencari nasihat bila diperlukan. Di sisi lain, pelaku usaha diminta menyediakan informasi yang jelas dan tidak menimbulkan multitafsir, sementara lembaga pengatur dan media diharapkan membimbing masyarakat dalam menerapkan pengetahuan tersebut saat membeli, menyiapkan, dan mengonsumsi makanan.

Direktur Pusat Pendidikan dan Komunikasi Gizi di Institut Gizi Nasional, Dr. Trinh Hong Son, menyampaikan bahwa “Sepuluh Rekomendasi Gizi Rasional hingga 2030 dan Piramida Gizi Kelompok Usia” dapat digunakan sebagai alat komunikasi, konseling, dan praktik gizi. Ia juga menyebut aplikasi Vietnam Nutrition (VNeNUTRITION) sebagai sarana untuk mendekatkan pengetahuan gizi kepada masyarakat dan membantu penerapan rekomendasi gizi dalam pilihan makanan, pengaturan makan, serta perawatan kesehatan sehari-hari.

Para ahli menekankan perawatan gizi perlu dilakukan sejak seseorang berada dalam kondisi sehat dan berlanjut sepanjang hidup, terutama bagi ibu hamil, ibu menyusui, anak-anak, lansia, serta kelompok rentan. Pada 1.000 hari pertama kehidupan, perhatian diarahkan pada gizi selama kehamilan, pemberian ASI, serta pemberian makanan pendamping yang tepat dan aman.

Untuk anak usia sekolah, keluarga, sekolah, dan fasilitas kesehatan didorong bekerja sama dalam pengelolaan makanan, pendidikan gizi, dorongan aktivitas fisik, serta pemantauan pertumbuhan. Mereka juga diingatkan menghindari tekanan pada citra tubuh atau praktik pengendalian berat badan yang tidak aman.

Sementara bagi orang dewasa dan lansia, pola makan perlu disesuaikan dengan kondisi kesehatan, kemampuan makan, dan tingkat aktivitas fisik. Dukungan juga dinilai penting bagi mereka yang kesulitan mengakses, menyiapkan, atau menggunakan makanan. Di wilayah kurang beruntung, komunikasi gizi disarankan dikaitkan dengan konseling dan penilaian gizi, menghubungkan layanan, serta mengoordinasikan upaya kesehatan, pendidikan, mata pencaharian, dan pengurangan kemiskinan agar masyarakat memiliki kesempatan nyata untuk menerapkan praktik tersebut.

Pekan ini menutup pesannya dengan ajakan memulai dari kebiasaan sehari-hari: makan beragam, membeli sesuai kebutuhan, membaca label, menyimpan makanan dengan benar, serta rutin beraktivitas fisik. Pilihan yang dilakukan setiap hari dinilai menjadi dasar menjaga kesehatan diri, keluarga, dan komunitas.