Di era digital, video pendek dapat dengan cepat mengangkat nama seseorang maupun sebuah daerah. Fenomena itu terlihat dari viralnya Dikha saat tampil sebagai tukang tari di haluan jalur pada ajang Pacu Jalur di Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing). Rekaman yang menampilkan karisma dan semangatnya tidak hanya membuat Dikha dikenal luas, tetapi juga kembali menarik perhatian publik pada tradisi Pacu Jalur.
Namun, popularitas yang datang mendadak juga memunculkan tantangan: bagaimana menjaga perhatian publik agar tidak berhenti sebagai tren sesaat. Dalam konteks ini, kolaborasi dinilai menjadi kunci agar momentum viral dapat diarahkan menjadi promosi budaya yang lebih berkelanjutan.
Viralnya Dikha disebut tidak lepas dari pesona pribadi yang tulus, serta antusiasme penonton Pacu Jalur. Di tengah sorotan itu, muncul pula perbincangan warganet mengenai Dimas, videografer yang pertama kali mengunggah video tersebut. Seiring meluasnya tayangan, berkembang perdebatan tentang siapa yang lebih berjasa atau siapa yang dianggap “terlupakan”.
Perdebatan tersebut dinilai berpotensi menggeser fokus dari tujuan yang lebih besar. Alih-alih terjebak pada tarik-menarik narasi, Dikha dan Dimas—bersama kreator konten lokal lainnya—dipandang memiliki kepentingan yang sama, yakni memajukan daerah melalui pengenalan budaya dan potensi Kuansing.
Gagasan kolaborasi ini mendorong agar popularitas Dikha dapat menjadi “magnet” untuk menarik perhatian, lalu diisi dengan konten yang lebih kaya dan bermakna. Sejumlah ide yang disebut bisa dikembangkan antara lain seri konten tentang tradisi Kuansing lainnya, seperti festival adat, proses pembuatan tenun, hingga pengambilan latar di destinasi wisata alam Kuansing. Konten juga dapat mengangkat beragam sisi Pacu Jalur, mulai dari persiapan pemacu jalur hingga kuliner khas daerah.
Kolaborasi semacam itu dipandang tidak hanya menjaga relevansi figur yang viral, tetapi juga membuat Kuansing tetap menjadi perbincangan melalui narasi budaya yang berkelanjutan. Selain itu, konten yang dibuat secara profesional dan kolaboratif dinilai berpotensi memiliki kualitas lebih baik serta jangkauan yang lebih luas, sehingga kekayaan budaya Kuansing dapat semakin dikenal.
Dampak lanjutan yang diharapkan adalah pergerakan ekonomi lokal. Semakin banyak orang tertarik untuk berkunjung, semakin besar peluang manfaat bagi pelaku usaha setempat, mulai dari penginapan, restoran, hingga penjual suvenir. Peningkatan kunjungan juga dinilai dapat membuka lapangan kerja dan menggerakkan roda ekonomi daerah.
Selain aspek promosi dan ekonomi, keberhasilan kolaborasi juga disebut dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda Kuansing. Kreativitas dan kerja sama dipandang sebagai cara untuk berkontribusi nyata bagi daerah, sekaligus membuka kemungkinan lahirnya kreator-kreator baru yang melanjutkan promosi budaya Kuansing.
Pada akhirnya, viralnya Dikha dipandang sebagai pintu masuk menuju perhatian publik yang lebih luas. Agar momentum tersebut tidak cepat berlalu, diperlukan visi bersama dan kerja kolaboratif, dengan menekan ego serta mengalihkan energi dari perdebatan menuju upaya memperkuat promosi budaya Kuansing dalam jangka panjang.

