Mojokerto, Jawa Timur, kerap dijuluki sebagai “Kota Onde-onde”. Julukan ini merujuk pada popularitas onde-onde khas Mojokerto—camilan bulat bertabur wijen dengan isian kacang hijau—yang telah lama melekat sebagai identitas kuliner daerah tersebut. Di balik sebutan itu, tersimpan cerita sejarah, tradisi, serta perkembangan kuliner yang terus bertahan hingga kini.
Dalam sejumlah catatan yang beredar, onde-onde disebut memiliki jejak perjalanan panjang. Camilan ini dikisahkan masuk ke Nusantara melalui pedagang Tiongkok pada era Dinasti Ming, sekitar 1300 hingga 1500 Masehi. Nama Laksamana Cheng Ho juga kerap dikaitkan dengan penyebaran budaya Tiongkok, termasuk kuliner, yang kemudian berbaur dengan tradisi lokal.
Di Mojokerto, onde-onde disebut telah dikenal sejak masa Kerajaan Majapahit. Keterkaitan ini memperkuat posisi Mojokerto sebagai salah satu wilayah yang identik dengan warisan Majapahit, sekaligus menjadi ruang tumbuh bagi tradisi kuliner yang bertahan lintas generasi.
Keberlanjutan ikon onde-onde di Mojokerto juga ditopang oleh hadirnya toko-toko yang dikenal luas. Salah satu yang disebut legendaris adalah Onde-Onde Bo Liem, yang berdiri sejak 1929. Keberadaan usaha semacam ini memperkuat citra Mojokerto sebagai daerah yang mempertahankan resep dan rasa tradisional, sekaligus menjadikan onde-onde sebagai penanda khas kota.
Meski dikenal lewat onde-onde, Mojokerto tidak hanya menawarkan sisi kuliner. Wilayah ini kerap disebut sebagai jantung Kerajaan Majapahit, dengan sejumlah situs peninggalan yang dapat dijumpai, seperti Candi Bajang Ratu, Candi Tikus, dan kawasan Trowulan yang dikenal sebagai pusat ibu kota Majapahit. Kekayaan sejarah tersebut turut membentuk ragam tradisi dan kesenian yang masih dilestarikan.
Dari sisi alam, kawasan Trawas disebut menawarkan pemandangan pegunungan, air terjun, dan hamparan persawahan. Wilayah ini menjadi salah satu tujuan bagi wisatawan yang mencari suasana sejuk dan lanskap hijau di sekitar Mojokerto.
Selain onde-onde, Mojokerto juga dikenal memiliki beragam pilihan kuliner. Beberapa yang kerap disebut antara lain sop buntut Mojokerto, botok tempe, sate Bangil yang populer di wilayah ini, serta minuman seperti es gronjongan dan es tapai ketan hitam. Ada pula tahuwa yang disajikan dengan kuah jahe hangat dan taburan kacang.
Untuk wisata, sejumlah lokasi yang sering direkomendasikan meliputi Situs Trowulan—termasuk Museum Majapahit, Candi Bajang Ratu, Candi Tikus, dan Kolam Segaran—serta kawasan Fresh Green Trawas. Destinasi lain yang disebut antara lain Taman Ghanjaran, Air Terjun Dlundung, Air Terjun Coban Talun, Kampung Organik Brenjonk, Rainbow Garden Poetoek Soeko, dan Duyung Trawas Hill.
Dengan kombinasi sejarah Majapahit, kekayaan budaya, ragam kuliner, dan bentang alam, julukan “Kota Onde-onde” pada Mojokerto tidak hanya merujuk pada satu jenis makanan. Sebutan itu juga menggambarkan bagaimana sebuah kuliner tradisional dapat menjadi identitas daerah, sekaligus pintu masuk untuk mengenal Mojokerto lebih luas.

