BERITA TERKINI
Model Fast Fashion Berbasis AI: Produksi Setelah Pesanan, Baca Tren dari Media Sosial, dan Rantai Pasok Lebih Cepat

Model Fast Fashion Berbasis AI: Produksi Setelah Pesanan, Baca Tren dari Media Sosial, dan Rantai Pasok Lebih Cepat

Sejumlah startup fashion mulai mengubah cara industri pakaian bekerja. Jika model konvensional mengharuskan merek memproduksi koleksi berbulan-bulan lebih awal dan menimbun stok sekitar 120 hingga 160 hari di gudang, pemain baru justru membalik pola tersebut: desain ditampilkan terlebih dahulu secara digital, sementara produksi baru berjalan setelah ada pesanan dan pembayaran masuk.

Salah satu contoh penerapannya dilakukan Styched. Dalam model ini, proses pembuatan baju baru dimulai ketika konsumen menyelesaikan pembayaran. Alur manufaktur kemudian diteruskan ke penjahit melalui jaringan berbasis aplikasi. Pendekatan ini disebut menekan risiko kerugian akibat produk reject atau stok menumpuk hingga nol persen.

Efisiensi model tanpa stok juga menarik perhatian investor. Startup sejenis, NEWME, dilaporkan mengamankan pendanaan sebesar 35,6 juta dolar AS. Sementara Virgio memperoleh pendanaan 37,8 juta dolar AS dari Prosus dan Alpha Wave Global untuk memperkuat sistem logistik tanpa stok.

Di sisi lain, kecepatan menghadirkan model baru didorong pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) untuk membaca tren. AI digunakan untuk menganalisis kata kunci yang banyak dicari di Google serta gaya busana yang tengah viral di Instagram. Dengan cara ini, sebuah brand dapat merilis ratusan model baru secara rutin karena keputusan desain dan produksi didukung pemantauan tren yang berlangsung terus-menerus.

NEWME, misalnya, menerapkan strategi rilis cepat setiap akhir pekan dan meluncurkan hingga 500 gaya baru setiap hari Jumat. Co-founder NEWME, Sumit Jasoria, menyatakan bahwa saat koleksi dirilis, tidak ada stok yang disiapkan lebih dulu. Menurutnya, perusahaan baru mengetahui apa yang perlu diproduksi dan berapa jumlahnya pada sore hari setelah peluncuran.

Pemakaian algoritma juga memengaruhi proses kreatif dan pemasaran. Dengan dukungan AI, tim desain yang kecil tidak selalu perlu membuat sketsa manual dalam waktu lama. Visualisasi katalog pun dapat dibuat secara digital, sehingga pengeluaran untuk pemotretan fisik dapat ditekan.

Perubahan lain terlihat pada distribusi dari tahap ide hingga produk sampai ke konsumen. Pengamat industri Dipanjan Basu menilai keunggulan brand masa kini terletak pada kemampuan meluncurkan produk dalam waktu dua hingga tiga minggu. Ia membandingkannya dengan industri biasa yang membutuhkan 45 hari hingga terkadang dua setengah bulan.

Model rantai pasok berbasis data ini juga disebut terinspirasi dari praktik ritel global Shein, yang memelopori rantai pasok berbasis permintaan sebelum sempat dilarang di India pada 2020. Dalam periode tersebut, absennya Shein disebut membuka peluang bagi brand lokal untuk menawarkan alternatif pakaian modis dengan harga lebih terjangkau.

Kesuksesan startup digital turut mendorong respons dari pemain besar. Perusahaan ritel mapan mulai meluncurkan lini yang bergerak lebih cepat untuk mengejar konsumen muda. Trent, misalnya, meluncurkan merek Burnt Toast pada 2025, sementara Aditya Birla Fashion and Retail memperkenalkan OWND! sebagai bagian dari upaya memikat pasar dengan siklus fashion yang lebih cepat dan dipandu teknologi.

Dengan perkembangan ini, persaingan di industri pakaian dinilai tidak hanya ditentukan oleh besarnya modal, tetapi juga oleh kemampuan membaca kebutuhan pasar secara cepat dengan stok seminimal mungkin. Tren tersebut sekaligus menandai perubahan cara produksi dan konsumsi fashion yang semakin digital dan serba cepat.