Tren viral di media sosial, terutama TikTok, kerap datang silih berganti. Saat satu tren mulai mereda, tren lain muncul dengan konsep yang lebih ramai, lebih unik, dan kadang terasa semakin sulit dipahami. Sebagian pengguna ikut-ikutan karena dianggap seru atau sekadar tidak ingin tertinggal, namun ada pula yang mengaku mulai jenuh karena konten serupa muncul berulang kali.
Fenomena itu tergambar dalam tujuh meme yang menyoroti rasa lelah pengguna terhadap tren yang terlalu sering lewat di linimasa. Meme-meme tersebut menggambarkan reaksi berlebihan yang bernada bercanda—seolah ingin “menghajar” orang yang terus membawa-bawa tren viral—sebagai bentuk satire atas kejenuhan yang dirasakan.
Salah satu meme menyinggung situasi formal yang terganggu oleh candaan tren, misalnya saat rapat serius tetapi ada yang tiba-tiba menyelipkan kalimat populer “ubur ubur ikan lele” di tengah pembahasan. Ada pula meme yang menyoroti tren yang baru viral namun sudah memunculkan rasa bosan bagi sebagian orang, termasuk penggunaan ungkapan seperti “Ungke? Unggrrr!” yang sempat ramai di TikTok.
Beberapa meme lain menyinggung lagu-lagu yang kerap menjadi latar konten, seperti “Garam & Madu” yang disebut enak didengar namun bisa terasa membosankan ketika terlalu sering muncul saat pengguna melakukan scroll. Kondisi serupa digambarkan pada lagu “APT” yang dianggap catchy dan sering diiringi tarian, tetapi pada akhirnya membuat sebagian pengguna memilih melewati konten karena intensitas kemunculannya.
Meme juga menyoroti lagu “Mangu” yang digambarkan bernuansa galau dengan kisah cinta yang terhalang perbedaan keyakinan, sehingga disebut perlu diimbangi dengan lagu yang lebih membangkitkan semangat agar suasana hati tidak larut. Sementara itu, tren “Velocity” disebut masih seru bagi sebagian orang karena ritmenya memancing gerak, meski ada juga yang mulai merasa jenuh.
Secara umum, meme-meme tersebut menggambarkan bahwa hal viral bisa terasa lucu sekaligus mengganggu. Tren dapat muncul cepat dan menghilang tiba-tiba, tetapi paparan berulang kerap memunculkan kelelahan digital. Meski begitu, pengguna tetap diingatkan untuk menikmati konten sesuai kapasitas dan tidak memaksakan diri mengikuti tren yang tidak sesuai gaya. Di sisi lain, penting pula untuk tetap menghargai karya orang lain—baik lagu, gerakan tarian, maupun bentuk konten lain—selama membawa dampak positif.

