BERITA TERKINI
Arti Ungkapan "Kami dari 27 Bulan Mei" yang Kembali Viral di Media Sosial

Arti Ungkapan "Kami dari 27 Bulan Mei" yang Kembali Viral di Media Sosial

Ungkapan “Kami dari 27 bulan Mei” kembali meramaikan media sosial X (sebelumnya Twitter) dan masuk jajaran topik yang banyak dibicarakan. Fenomena ini muncul berulang setiap kali kalender menunjukkan tanggal 27 Mei, ketika banyak pengguna mengunggah kalimat serupa secara serentak, biasanya disertai meme yang dibuat kreatif untuk memancing tawa.

Tren tersebut kerap membuat sebagian pengguna, terutama yang baru mengikuti dinamika media sosial, bertanya-tanya tentang maksud dan asal-usulnya. Di linimasa, kalimat itu muncul dalam berbagai format, mulai dari unggahan teks hingga gambar editan yang menampilkan tokoh publik atau karakter kartun dengan tambahan tulisan “Kami dari 27 bulan Mei”.

Berbeda dari peringatan resmi atau agenda nasional, kemunculan ungkapan ini tidak terkait hari besar tertentu. Pengguna internet memaknainya sebagai semacam nostalgia digital yang terus dipelihara dan berulang dari tahun ke tahun.

Asal-usul frasa “Kami dari 27 bulan Mei” merujuk pada lirik lagu berjudul “Tongkrongan Sopan” yang dipopulerkan oleh grup PBSU 275. Lagu tersebut sempat meledak sebagai tren pada 2022 melalui TikTok, terutama lewat potongan audio yang dianggap ikonik. Di kalangan publik, lagu itu juga kerap dikenal dengan sebutan “Tongkrongan Kami Bukan Tongkrongan Pecundang”, merujuk pada salah satu baris lirik yang paling mudah diingat.

Dalam perkembangannya, sejumlah selebritas dan influencer turut memakai lagu tersebut untuk konten video pendek, sehingga memperluas jangkauan dan memperkuat ingatan kolektif warganet terhadap potongan liriknya. Lagu “Tongkrongan Sopan” sendiri disebut bermula sebagai lagu internal sebuah kelompok sebelum kemudian menyebar luas, dengan lirik yang khas serta ritme yang mudah melekat.

Jika merujuk pada liriknya, penyebutan “27 bulan Mei” merupakan bagian dari identitas kelompok yang dinyanyikan dalam lagu tersebut. Namun seiring waktu, konteks aslinya bergeser dan berubah menjadi candaan umum yang digunakan netizen sebagai penanda momen tahunan di ruang digital.

Kini, ungkapan “Kami dari 27 bulan Mei” telah menjadi semacam tradisi tahunan di dunia maya. Setiap 27 Mei, warganet saling berinteraksi dengan membagikan meme dan variasi unggahan yang memanfaatkan frasa tersebut. Setelah tanggal berganti, tren biasanya mereda dengan sendirinya dan kembali muncul pada tahun berikutnya.

Fenomena ini menunjukkan bagaimana potongan lirik dari lagu yang pernah viral dapat bertahan lama dan membentuk budaya media sosial, sekaligus menjadi ruang kebersamaan bagi pengguna internet yang merayakannya lewat humor dan kreativitas.