Kuliner berbahan dasar mie telah lama menjadi bagian dari keseharian masyarakat Bengkalis. Dari sarapan hingga pilihan makanan saat malam hari, berbagai olahan mie mudah ditemukan di sejumlah sudut kota, mulai dari mie sagu, mie instan yang dimodifikasi, hingga mie gerobakan. Di tengah persaingan yang padat itu, muncul satu nama yang belakangan dikenal kalangan muda: Mie Young.
Usaha ini dirintis Lukman Hakim pada 2020. Di saat banyak pelaku usaha menghadapi ketidakpastian, Lukman memilih memulai bisnisnya dengan modal Rp200.000. Ia mengandalkan keahlian meracik bumbu mie pedas sebagai pembeda, sekaligus menargetkan segmen yang spesifik dan dikenal kritis, yakni anak muda.
Perjalanan awal Mie Young tidak lepas dari keterbatasan promosi dan tantangan mencari pelanggan. Lukman harus berhadapan dengan kedai-kedai mie yang sudah lebih dulu eksis dan memiliki pelanggan setia. Untuk menjangkau pasar, ia memanfaatkan media sosial seadanya serta promosi dari mulut ke mulut. Seiring waktu, racikan bumbunya mulai dikenal dan jumlah pelanggan bertambah.
Konsep yang ditawarkan Mie Young adalah “pedas berlevel” dengan harga yang disebut tetap sama. Pelanggan dapat memilih tingkat kepedasan tanpa perubahan harga, dengan kisaran Rp12.000-an per porsi dan sudah termasuk telur. Selain itu, tersedia opsi tambahan topping dengan biaya sekitar Rp3.000-an, seperti nugget, sosis, bakso, hingga chicken katsu.
Dari sisi lokasi, lapak Mie Young berada di Jalan Sudirman, tepat di samping air mancur yang dikenal sebagai salah satu titik keramaian warga Bengkalis, terutama pada sore hingga malam hari. Menyesuaikan aktivitas di kawasan tersebut, Mie Young beroperasi mulai sore dan melayani hingga pukul 23.00.
Kehadiran Mie Young menambah pilihan wisata kuliner di Bengkalis, terutama bagi pelajar dan mahasiswa yang mencari makanan terjangkau dengan sensasi pedas yang bisa disesuaikan. Di balik semangkuk mie yang disajikan, usaha ini juga mencerminkan upaya pelaku UMKM muda bertahan dan bersaing di tengah pasar kuliner lokal yang kompetitif.

