Sejumlah unggahan di media sosial Facebook dari warga Kabupaten Rokan Hilir (Rohil), Riau, memicu perbincangan publik mengenai kualitas menu Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang dibagikan kepada siswa sekolah. Unggahan tersebut menampilkan menu yang dinilai sebagian warganet tidak layak dan tidak mencerminkan konsep makan bergizi.
Unggahan yang ramai dibahas berasal dari akun Dwi Ayu Lestari. Dalam salah satu unggahan, ia memperlihatkan foto menu MBG berupa mie bihun kuah dengan dua butir bakso, beberapa potong cabai, serta sepotong semangka. Pada unggahan lainnya, tampak menu yang terdiri dari jajanan kemasan, salak, dan kue sederhana.
Berdasarkan pantauan pada Rabu (10/12/2025), Dwi Ayu Lestari menyebut sajian tersebut “membagongkan” dan meminta pendapat para orang tua terkait kelayakan menu MBG yang diterima siswa. Unggahan itu kemudian menyebar luas dan memicu ratusan komentar.
Di kolom komentar, sejumlah warganet mempertanyakan kecukupan porsi dan standar gizi menu yang dibagikan. Sebagian menilai sajian tersebut terlalu minim dan jauh dari konsep makan bergizi yang dicanangkan pemerintah. Ada pula yang menyoroti dugaan pelaksanaan program yang tidak sesuai pedoman.
Beragam komentar muncul, mulai dari nada kecewa hingga sindiran. “Harusnya Rp 15 ribu bisa beli nasi Padang, kan?” tulis seorang warganet. Warganet lain mempertanyakan kandungan gizi menu tersebut, sementara komentar lain menilai jika hanya berupa jajanan, siswa dapat membelinya sendiri.
Sejumlah komentar juga menuding adanya pihak yang memanfaatkan program. “Selagi MBG berjalan, cuan mengalir bagi oknum yang tidak bertanggung jawab,” tulis warganet bernama Joko Trisno.
Di sisi lain, ada pula respons yang lebih moderat. Sebagian warganet meminta orang tua mengarahkan anak untuk menilai kelayakan makanan sebelum dikonsumsi. Meski demikian, mayoritas komentar tetap menyayangkan kualitas menu yang beredar.
Dalam balasan komentar, Dwi Ayu Lestari menyebut menu MBG tersebut berada di wilayah Balam, Kecamatan Bangko Pusako, Rohil. Ia juga menyampaikan bahwa menu serupa disebut ditemukan di beberapa sekolah lain di kawasan tersebut. “Rata-rata di sekolah sini sama saja menunya,” tulisnya.
Isu ini menjadi sorotan karena MBG seharusnya memenuhi unsur gizi seimbang sesuai petunjuk teknis program pangan bergizi untuk siswa. Sejumlah warganet meminta pihak terkait menjelaskan standar penyusunan menu serta memastikan tidak ada penyimpangan dalam penyediaan makanan.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak sekolah, penyedia katering SPPG, maupun dinas terkait di Kabupaten Rokan Hilir. Masyarakat berharap pemerintah daerah segera melakukan evaluasi agar program yang ditujukan untuk mendukung kesehatan siswa tidak menimbulkan polemik.

