Di Yogyakarta, roti hangat yang dijajakan keliling telah menjadi jajanan yang lekat dengan keseharian warga. Di balik setiap kotak aluminium berisi roti yang ditumpuk menjulang di belakang sepeda atau motor, ada cerita para penjual yang mengandalkan dagangan ini untuk bertahan dan menjaga semangat hidup.
Dua di antaranya adalah Wardi (69) dan Daud (17). Keduanya berkeliling dari kampung ke kampung, menyapa warga sambil membawa roti yang tetap dijajakan dalam kondisi hangat. Aroma roti yang baru keluar dari pabrik menjadi penanda kedatangan mereka di permukiman-permukiman yang dilalui.
Menurut Wardi, roti hangat bisa tetap disajikan hangat meski dijual seharian karena ada jadwal pengisian ulang stok dari pabrik pada pertengahan hari. “Setiap hari selalu ada jadwal restock. Kadang gantian sama teman, kadang saya muter lagi,” tutur Wardi saat ditemui di Sewon, Bantul, Selasa (18/11/2025) pagi.
Wardi merupakan pensiunan kantor swasta yang mulai berjualan roti hangat keliling sejak 2019. Ia sempat berhenti selama lebih dari satu tahun saat terkena virus corona. Awalnya, aktivitas berjualan dilakukan untuk mengisi waktu, namun kondisi ekonomi yang tidak stabil membuatnya kembali berjualan demi memenuhi kebutuhan keluarga.
Wardi mengaku sempat mencoba berbagai jenis dagangan lain sebelum kembali menekuni roti hangat. “Saya ya waktu itu sudah nyoba jualan yang lain. Jualan sapu saya sudah pernah, (jual) perabotan itu juga pernah. Tapi dari semua itu tetep yang paling menghasilkan ya ini,” ungkapnya.
Sementara itu, di sudut kota lainnya, Daud, perantau asal Sukabumi, menjajakan roti hangat untuk menghidupi kedua orang tuanya di kampung. Ia berkeliling setiap hari di wilayah Kota Yogyakarta bagian selatan dengan rute yang ia jalani sejak pagi hingga sore.
“Saya muter pagi biasa di Wirosaban, belakangnya Rumah Sakit Wirosaban. Muter terus sampai balik lagi ke Bronto. Sore kesini, terus ke selatan sebelum Ring Road tapi enggak sampai nyebrang,” ucap Daud saat ditemui di Jalan Prawirotaman, Yogyakarta, Selasa (18/11/2025) sore.
Kisah Wardi dan Daud menunjukkan bagaimana roti hangat keliling bukan sekadar dagangan, melainkan juga tumpuan penghidupan. Dengan jadwal restock yang rutin dan rute yang ditempuh setiap hari, mereka menjaga kualitas roti sekaligus mempertahankan harapan yang terus bergerak mengikuti roda kendaraan.

