BERITA TERKINI
Menjaga Rasa Turun-Temurun, Penjual Jajanan Pasar di Pasar Ngasem Mulai Berjualan Sejak Pagi

Menjaga Rasa Turun-Temurun, Penjual Jajanan Pasar di Pasar Ngasem Mulai Berjualan Sejak Pagi

Yogyakarta — Ketika sebagian warga Yogyakarta masih terlelap, aktivitas di Pasar Ngasem sudah lebih dulu bergerak. Lampu-lampu lapak yang redup mulai menerangi area pasar, langkah kaki terdengar bersahutan, dan aroma jajanan pasar mengisi udara pagi.

Di salah satu sudut pasar, Yanti (55) telah berdiri di balik lapaknya sejak pukul 05.00 WIB. Ia menyiapkan berbagai jajanan pasar untuk dijual hari itu di lapak yang dikenal dengan nama “Mbak Anik”.

Lapak tersebut menawarkan aneka pilihan makanan, mulai dari tahu bakso, gorengan, bolu, dimsum, lemper, roti, nasi kuning, hingga buah potong dan jus jambu. Ragam dagangan itu menjadi daya tarik tersendiri bagi pembeli yang datang dengan kebutuhan dan selera berbeda.

Meski menjual banyak jenis makanan, Yanti menyebut ada beberapa menu yang paling cepat habis. “Jualannya sebenarnya macam-macam. Ada tahu bakso, gorengan, bolu, dimsum, buah potong, nasi kuning, roti, lemper, sama jus jambu juga. Tapi yang paling sering laku itu lukchup, kue sus, sama sosis solo,” ujar Yanti.

Di balik aktivitas jual beli setiap pagi, Yanti menyimpan kisah usaha yang berjalan lintas generasi. Ia bukan pedagang generasi pertama di Pasar Ngasem. Sejak kecil, ia sudah akrab dengan suasana pasar karena orang tuanya lebih dulu berjualan di tempat yang sama.

“Dulu awalnya orang tua saya yang jualan. Saya cuma meneruskan saja sampai sekarang,” katanya.

Menurut Yanti, kebiasaan orang tuanya menyiapkan dagangan sejak pagi, melayani pembeli, hingga menutup lapak saat pasar mulai sepi, membentuk nilai kerja keras dan ketekunan yang ia jalani hingga kini. Ia juga berupaya menjaga rasa jajanan yang telah dikenal pelanggan.

Setiap hari, Yanti membuka lapak sejak pukul 05.00 WIB untuk menata dagangan dan bersiap menyambut pembeli. Ia mengatakan, keramaian Pasar Ngasem cenderung memiliki pola yang sama. “Paling ramai itu dari jam enam sampai jam delapan pagi. Kalau sudah siang masih ada yang datang, tapi mulai jarang,” ungkapnya.

Pada rentang waktu tersebut, pembeli datang silih berganti. Ada warga sekitar yang mencari sarapan, pedagang lain yang membeli makanan sebelum berjualan, hingga pengunjung yang sengaja datang untuk merasakan suasana pasar tradisional.