Toxic relationship adalah hubungan yang membuat salah satu pihak merasa dikekang, direndahkan, atau diperlakukan tidak adil. Dalam kondisi ini, seseorang kerap merasa lelah atau tidak bahagia setelah menghabiskan waktu bersama pasangan. Tanda lainnya, komunikasi menjadi tidak sehat dan muncul kecenderungan untuk tidak jujur demi menghindari reaksi pasangan.
Sejumlah ciri toxic relationship disebut sering kali tidak langsung terlihat karena bergantung pada dinamika masing-masing pasangan. Namun, ada beberapa tanda yang dapat diwaspadai.
Kurang dukungan dari pasangan menjadi salah satu indikator. Dalam hubungan yang sehat, pasangan umumnya ikut bahagia saat pasangannya berhasil. Ketika hubungan berubah menjadi tidak sehat, pencapaian justru diperlakukan seperti kompetisi. Waktu bersama tidak lagi terasa positif, dukungan berkurang, dan rasa percaya ikut menurun.
Komunikasi yang tidak sehat juga kerap muncul, misalnya komunikasi dipenuhi sarkasme, kritik, dan penghinaan. Dalam beberapa situasi, pasangan dapat melontarkan komentar sinis di depan teman atau keluarga, yang menjadi sinyal perlunya kewaspadaan.
Kecemburuan berlebihan turut menjadi tanda. Cemburu dapat terjadi secara alami, tetapi ketika berkembang menjadi kecurigaan dan ketidakpercayaan yang terus-menerus, hal ini dapat mengikis hubungan.
Perilaku mengontrol termasuk ciri lain. Pasangan yang toxic bisa terus menanyakan keberadaan, serta mudah kesal ketika pesan atau telepon tidak segera dijawab. Perilaku ini dapat berawal dari kecemburuan atau menurunnya kepercayaan, namun juga dapat menjadi bentuk kontrol yang disalahgunakan.
Menjadi tidak jujur dapat muncul sebagai respons terhadap situasi hubungan. Jika seseorang sering berbohong tentang keberadaan atau dengan siapa ia bertemu, terutama untuk menghindari reaksi pasangan, kondisi ini dapat mengarah pada hubungan yang tidak sehat.
Stres berkepanjangan juga patut diperhatikan. Perasaan gelisah yang terus-menerus meski tidak ada sumber stres dari luar bisa menandakan adanya masalah dalam hubungan. Stres yang berkelanjutan disebut dapat berdampak pada kesehatan fisik dan mental, termasuk rasa lelah mental dan fisik.
Mengabaikan kebutuhan pribadi merupakan ciri berikutnya. Ketika seseorang terus mengikuti keinginan pasangan meski bertentangan dengan kenyamanan atau kebutuhan diri sendiri, hal ini dapat menjadi tanda hubungan yang toxic.
Hilangnya hubungan lain juga dapat terjadi. Interaksi dengan teman dan keluarga bisa berkurang karena pasangan, atau karena hubungan menghabiskan banyak waktu luang yang semestinya dimiliki.
Kurang merawat diri kerap menyertai. Korban toxic relationship disebut cenderung melepaskan kebiasaan perawatan diri, berhenti melakukan hobi, atau tidak menjaga kesehatan dengan baik. Situasi ini bisa dipengaruhi oleh berkurangnya energi atau karena pasangan tidak setuju ketika seseorang melakukan kegiatan sendiri.
Dalam materi yang sama, disebutkan beberapa dampak toxic relationship, di antaranya mengisolasi seseorang dari hubungan lain yang lebih sehat, membuat harga diri menurun, memicu stres dan gangguan kecemasan, serta membuat seseorang mengabaikan kebutuhan diri sendiri.
Temuan studi berjudul Dampak Toxic Relationship Terhadap Kesehatan Mental (2024) menyatakan bahwa hubungan tidak sehat dapat terjadi dalam berbagai relasi, termasuk keluarga, sahabat, maupun pasangan. Studi tersebut menekankan dampak buruknya terhadap kesehatan mental dan fisik. Penelitian itu juga menyarankan agar seseorang mempertimbangkan meninggalkan hubungan toxic ketika tanda-tanda negatif sudah dirasakan, serta mulai mencintai diri sendiri untuk menjaga kesehatan mental.
Adapun sejumlah langkah yang dapat dilakukan untuk menghadapi toxic relationship meliputi: mengenali ciri-cirinya, menetapkan batasan yang jelas mengenai hal yang bisa dan tidak bisa diterima, serta membangun komunikasi yang jujur dan terbuka. Selain itu, penting untuk menjaga harga diri melalui perawatan diri, mengejar hobi, dan berada di lingkungan yang mendukung.
Jika upaya memperbaiki hubungan tidak membuahkan hasil dan dampak negatif terus berlanjut, mengakhiri hubungan dapat menjadi pertimbangan. Mencari dukungan dari orang terdekat—seperti teman, keluarga, atau konselor—juga dapat membantu melihat situasi secara lebih objektif dan memberi dorongan saat mengambil keputusan.
Bila hubungan membuat seseorang terus merasa cemas, takut, tidak berharga, atau selalu menyalahkan diri sendiri, bantuan profesional dapat dipertimbangkan, terutama ketika stres atau gangguan kecemasan sudah mengganggu keseharian.