BERITA TERKINI
Mengelola Rasa Cemburu agar Tidak Merusak Hubungan: Kenali Penyebab dan Tanda Bahaya

Mengelola Rasa Cemburu agar Tidak Merusak Hubungan: Kenali Penyebab dan Tanda Bahaya

Rasa cemburu dalam hubungan spesial merupakan hal yang wajar. Namun, yang menentukan sehat atau tidaknya sebuah relasi adalah bagaimana seseorang mengelola kecemburuan itu agar tidak menguasai akal sehat.

Psikolog klinis Dr. Monica Borschel menjelaskan, kecemburuan bisa menjadi “alarm” palsu maupun peringatan yang nyata. “Alarm palsu” dapat muncul dalam bentuk rendahnya harga diri atau kecemasan keterikatan, yakni perasaan mendalam bahwa orang yang dicintai tidak akan ada saat dibutuhkan. Sementara itu, peringatan yang nyata bisa terlihat ketika pasangan meremehkan, mengisolasi, mencoba mengendalikan, atau pernah berkhianat. Menurutnya, ketika hubungan tidak terasa aman bagi kedua pihak, kecemburuan lebih mudah muncul.

Di sisi lain, Dr. Borschel menyebut kecemburuan sebagai emosi manusia yang berkembang untuk melindungi atau menjaga pasangan. Ia menambahkan, psikolog evolusioner menemukan perempuan lebih mungkin terluka oleh perselingkuhan emosional, sedangkan laki-laki bisa lebih cemburu pada hal-hal fisik. Meski demikian, bentuk kecemburuan dapat berbeda-beda pada tiap individu.

Dalam hubungan yang sehat dan aman, kecemburuan yang alami dinilai masih bisa dibicarakan dan diselesaikan. Bahkan, menganggap orang lain menarik tetap bisa terjadi tanpa harus berujung pada konflik, selama komunikasi berjalan dan tidak ada tindakan yang melewati batas.

Dr. Borschel juga menekankan bahwa kecemburuan dapat menjadi indikasi persoalan yang lebih mendasar. Ia menyinggung soal saling ketergantungan, yakni ketika pasangan memiliki hobi, tujuan, dan identitas yang sama, serta dapat saling mengandalkan untuk kebutuhan emosional dan fisik. Namun, ia mengingatkan, ketika seseorang menjadi terlalu mandiri, hal itu dapat memicu ketakutan akan keintiman sehingga pasangannya merasa diabaikan dan menjadi cemburu. Sebaliknya, dalam relasi yang saling bergantung pun kecemburuan bisa muncul ketika seseorang merasa kurang mendapat perhatian.

Selain itu, berbohong, menggoda, dan berkhianat disebut sebagai alasan yang lebih jelas mengapa seseorang menjadi cemburu. Jika hubungan berada dalam kondisi aman, kedua pihak dapat membicarakan secara terbuka apa yang memicu kecemburuan, saling mendengar, dan mengakui perasaan tersebut.

Namun, Dr. Borschel mengingatkan adanya tanda bahaya ketika kecemburuan berubah menjadi perilaku mengontrol, seperti memeriksa ponsel, membuntuti, mengisolasi, atau menginterogasi pasangan. Ia menyebut tindakan semacam itu dapat menjadi sinyal masalah yang lebih besar dan berpotensi mengarah pada hubungan yang penuh kekerasan.

Ia juga menilai, kecemburuan ekstrem bisa dianggap masuk akal jika memang ada perselingkuhan. Tetapi, jika kecemburuan ekstrem terjadi tanpa kebohongan atau perselingkuhan, hal itu dapat menjadi tanda bahaya lain, termasuk kemungkinan pasangan yang cemburu justru berbohong atau berselingkuh. Menurutnya, sebagian orang dapat memproyeksikan perilaku mereka kepada orang lain. Ia juga mengimbau agar waspada terhadap taktik kontrol melalui manipulasi, isolasi, atau intimidasi demi membuat seseorang tetap bertahan dalam hubungan.

Terkait pertanyaan apakah pasangan yang cemburu bisa berubah, Dr. Borschel menyebut ada dua kemungkinan. Jika kecemburuan dipicu harga diri yang rendah atau kecemasan keterikatan, perubahan dinilai lebih mungkin terjadi melalui perbaikan harga diri dan nilai diri. Namun, bila kecemburuan berakar pada kebutuhan untuk mengendalikan, hal itu disebut lebih sulit diubah. Ia menambahkan, kecemburuan yang ditekan pun bisa muncul dalam bentuk komentar pasif-agresif, pengabaian, atau perilaku menghukum.

Dr. Borschel menyarankan pihak yang cemburu untuk membahas sumber masalahnya: apakah rasa tidak aman itu terkait harga diri yang rendah, kebutuhan akan kendali, gaya keterikatan, atau karena benar-benar dikhianati. Sementara bagi pihak yang merasa pasangannya terlalu cemburu, ia menyarankan untuk bertanya pada diri sendiri apakah pasangan sedang mencoba mengendalikan dengan cara mengisolasi, atau kecemburuan itu dipicu oleh ketidakjujuran dalam hubungan.

Jika pasangan memiliki kecemasan keterikatan, Dr. Borschel menyarankan untuk menanyakan apa yang bisa membuatnya merasa lebih aman dan membantu memperbaiki situasi. Ia menegaskan, kepercayaan adalah dasar hubungan dan perlu bersifat timbal balik. Seseorang juga perlu percaya pada diri sendiri sebelum mempercayai pasangan, karena seseorang tidak bisa memberikan sesuatu yang tidak dimilikinya. Setelah kepercayaan terbangun, barulah upaya membuat pasangan merasa aman dapat berjalan lebih kuat.