BERITA TERKINI
Makanan Tradisional Bisa Penuhi Prinsip Gizi Seimbang Jika Disusun dengan Komposisi Tepat

Makanan Tradisional Bisa Penuhi Prinsip Gizi Seimbang Jika Disusun dengan Komposisi Tepat

Makanan tradisional tidak hanya menjadi bagian dari identitas budaya, tetapi juga dapat membantu memenuhi kebutuhan gizi harian. Dengan komposisi dan porsi yang tepat, hidangan warisan keluarga dapat menyediakan nutrisi yang dibutuhkan tubuh untuk beraktivitas sekaligus menjaga kebugaran.

Prinsip ini sejalan dengan pola makan yang diterapkan atlet profesional. Dalam menunjang performa dan pemulihan tubuh, atlet membutuhkan asupan karbohidrat, protein, lemak sehat, serta vitamin dan mineral.

Vice President of Health and Wellness Herbalife, Dr. Luigi Gratton, menjelaskan bahwa banyak hidangan tradisional dari berbagai negara pada dasarnya telah menerapkan prinsip keseimbangan nutrisi yang juga digunakan dalam penyusunan menu atlet elite.

Menurut Gratton, salah satu pendekatan dalam nutrisi olahraga adalah konsep Performance Plate, yaitu kombinasi karbohidrat, protein, lemak sehat, sayur, dan buah untuk mendukung kebutuhan energi serta pemulihan tubuh. Ia menekankan bahwa prinsip tersebut tidak harus diterapkan melalui makanan khusus atlet, karena menu sehari-hari juga dapat memenuhi kebutuhan nutrisi selama bahan dan porsinya disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing orang.

Karbohidrat berperan sebagai sumber energi, protein membantu membangun dan memelihara jaringan tubuh, sementara lemak sehat mendukung berbagai fungsi tubuh. Adapun sayur dan buah menyumbang vitamin, mineral, serta serat.

Berbagai contoh kuliner tradisional dari sejumlah kawasan dunia menunjukkan bagaimana bahan pangan dapat dipadukan untuk menghasilkan hidangan dengan kandungan nutrisi yang beragam.

Di Asia, bibimbap dari Korea Selatan memadukan nasi, sayuran, dan sumber protein dalam satu sajian, sehingga menyediakan karbohidrat, protein, serta zat gizi dari sayuran. Sementara sup miso dari Jepang, yang berbahan dasar pasta fermentasi kedelai dan dapat dilengkapi tahu serta rumput laut, menyoroti peran pangan fermentasi dalam pembahasan kesehatan pencernaan. Gratton juga menyinggung penggunaan rempah seperti kunyit yang memiliki sifat antiinflamasi dan dinilai berpotensi mendukung pemulihan setelah aktivitas fisik.

Dari Meksiko, huevos rancheros umumnya menyajikan telur bersama saus berbahan tomat dan tortilla, serta dapat dilengkapi kacang-kacangan atau nasi. Perpaduan ini menyediakan protein dan karbohidrat, sementara komposisi dan jumlahnya dapat disesuaikan dengan kebutuhan energi seseorang.

Di Amerika Selatan, feijoada dari Brasil yang berbahan kacang hitam dan daging, serta ceviche yang berbahan ikan atau makanan laut dengan perasan jeruk sitrus, sama-sama dapat menyumbang protein sebagai bagian dari pola makan seimbang. Selain itu, yerba mate—minuman tradisional yang populer di sejumlah negara kawasan tersebut—mengandung kafein dan kerap dimanfaatkan untuk menunjang kewaspadaan saat beraktivitas.

Kuliner Timur Tengah juga menawarkan kombinasi bahan yang dapat melengkapi kebutuhan nutrisi, seperti hummus dari kacang arab, falafel yang umumnya berbahan kacang arab atau kacang-kacangan lain, serta tabbouleh berupa salad dengan bahan seperti peterseli, tomat, dan bulgur. Bahan-bahan ini dapat menyumbang protein nabati, serat, vitamin, mineral, hingga lemak sehat, bergantung pada komposisi dan cara pengolahan. Kurma juga disebut dapat menjadi sumber karbohidrat alami untuk menunjang kebutuhan energi.

Dari Afrika, jollof rice dikenal sebagai hidangan nasi berbumbu yang populer di Afrika Barat, sedangkan shakshuka berupa telur yang dimasak dalam saus tomat dan sayuran. Nasi dapat menjadi sumber karbohidrat, telur menyumbang protein, dan tomat serta sayuran melengkapi asupan vitamin dan mineral.

Gratton menilai ragam contoh tersebut menunjukkan bahwa prinsip pemenuhan kebutuhan gizi dapat ditemukan dalam berbagai budaya kuliner. Ia juga menekankan bahwa menerapkan prinsip nutrisi olahraga tidak berarti seseorang harus meninggalkan makanan tradisional yang telah menjadi bagian dari kebudayaan masyarakat.

Kunci utamanya adalah memperhatikan keseimbangan zat gizi, memilih bahan pangan yang beragam, mengonsumsi sayur dan buah dengan warna berbeda, serta mencukupi kebutuhan cairan. Asupan makanan juga perlu disesuaikan dengan tingkat aktivitas dan kebutuhan tubuh.

Prinsip serupa dapat diterapkan pada makanan Indonesia, misalnya dengan mengombinasikan nasi sebagai sumber karbohidrat, ikan atau telur sebagai sumber protein, tempe dan tahu, serta sayuran lokal menjadi menu harian yang bervariasi. Namun, nilai gizi suatu hidangan tetap bergantung pada bahan, porsi, cara pengolahan, dan kebutuhan masing-masing individu. Karena itu, makanan tradisional disarankan dipilih dan diolah dengan mempertimbangkan keseimbangan nutrisi, bukan semata-mata berdasarkan jenis makanannya.

Dengan pemilihan bahan yang tepat, kuliner tradisional dapat tetap dinikmati sekaligus menjadi bagian dari kebiasaan makan yang mendukung kesehatan dan kebugaran.