BERITA TERKINI
Makan Sehat ala Anak Kos: Menjaga Gizi Seimbang Meski Waktu dan Uang Terbatas

Makan Sehat ala Anak Kos: Menjaga Gizi Seimbang Meski Waktu dan Uang Terbatas

Menjadi anak kos kerap identik dengan pola makan serba praktis. Jadwal kuliah yang padat, tugas menumpuk, serta kebutuhan menghemat uang bulanan membuat urusan makan sering berada di urutan belakang. Mi instan, gorengan, minuman manis, hingga makanan cepat saji pun kerap dipilih karena mudah didapat dan relatif terjangkau.

Namun, kondisi tersebut berisiko membuat pola makan mahasiswa kurang seimbang. Dalam sejumlah temuan yang dirujuk penulis, kerentanan pangan pada mahasiswa disebut berada pada rentang 21% hingga 82% (Shi et al., 2021). Mahasiswa juga disebut cenderung lebih rendah mengonsumsi buah, sayur, dan biji-bijian utuh, sementara asupan makanan cepat saji, gula tambahan, serta minuman manis lebih tinggi (She et al., 2021).

Mengonsumsi makanan tidak sehat sesekali bukan berarti otomatis memiliki pola makan buruk. Masalah muncul ketika makanan-makanan tersebut menjadi menu utama hampir setiap hari tanpa diimbangi sayur, buah, dan sumber protein. Padahal, mahasiswa membutuhkan asupan gizi seimbang untuk menjaga kesehatan sekaligus mendukung konsentrasi dan produktivitas selama perkuliahan.

Menurut rujukan WHO (2026) yang dicantumkan penulis, pola makan sehat berlandaskan empat prinsip: kecukupan, keseimbangan, moderasi, dan keberagaman. Pola makan tidak sehat dapat memicu kekurangan gizi serta meningkatkan risiko penyakit tidak menular (PTM). PTM pada remaja menjadi perhatian kesehatan publik karena prevalensinya meningkat dan berdampak pada kualitas hidup; salah satu faktor yang disebut berperan adalah pengaturan pola makan yang tidak tepat (Kumalasari et al., 2025).

Meski begitu, makan sehat tidak selalu berarti mahal atau sulit dilakukan. Dengan memahami prinsip gizi seimbang dan mengelola uang bulanan secara bijak, mahasiswa yang tinggal di kos tetap dapat memenuhi kebutuhan gizi melalui pilihan makanan sederhana yang mudah ditemukan, aman, dan relatif terjangkau.

Memahami gizi seimbang

Merujuk Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2024), gizi seimbang adalah kombinasi menu makanan sehari-hari yang mengandung seluruh zat gizi yang dibutuhkan tubuh. Tidak ada satu bahan makanan yang mampu memenuhi semua kebutuhan zat gizi, sehingga diperlukan konsumsi aneka ragam makanan untuk mencukupi zat gizi makro—seperti karbohidrat, protein, lemak, dan serat—serta zat gizi mikro berupa vitamin dan mineral. Selain jenis makanan, jumlah dan jadwal makan yang teratur juga ditekankan sebagai bagian penting.

Karbohidrat, misalnya nasi, berfungsi sebagai sumber energi utama. Protein dari telur, ikan, ayam, tahu, dan tempe bermanfaat untuk menjaga kekuatan tulang. Sayur dan buah berperan menyediakan vitamin, mineral, serta serat yang mendukung fungsi tubuh dan kesehatan pencernaan. Lemak juga dibutuhkan, antara lain untuk membantu penyerapan vitamin tertentu, meski jenis dan jumlahnya perlu diperhatikan.

Di Indonesia, pedoman gizi seimbang diterapkan melalui panduan “Isi Piringku” dari Kementerian Kesehatan RI. Dalam satu piring makan, sekitar setengah bagian diisi sayur dan buah, sedangkan sisanya diisi makanan pokok serta lauk-pauk (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2024).

Kenapa pola makan anak kos kerap tidak seimbang?

Penulis menilai kebiasaan makan mahasiswa tidak semata dipengaruhi kurangnya pemahaman tentang gizi. Faktor harga makanan, ketersediaan bahan pangan, waktu untuk memasak, hingga lingkungan sekitar kampus turut memengaruhi pilihan makan sehari-hari.

Li et al. (2022) dalam tinjauan sistematis mengenai lingkungan makanan universitas disebut menemukan bahwa rasa makanan, ketersediaan, dan harga menjadi faktor yang memengaruhi mahasiswa dalam memilih makanan. Temuan ini menunjukkan bahwa keputusan makan kerap melibatkan banyak pertimbangan. Karena itu, mahasiswa yang kesulitan mengakses makanan bergizi tidak serta-merta dapat dianggap tidak peduli kesehatan; keterbatasan uang, akses bahan pangan, serta fasilitas memasak dapat menjadi hambatan nyata.

Selain itu, kebiasaan melewatkan makan karena terburu-buru, memilih minuman manis setiap hari, atau terlalu sering mengonsumsi makanan tinggi garam juga dapat memperburuk pola makan. Penulis menyarankan agar mahasiswa mempertimbangkan kebutuhan gizi tubuh, menyesuaikannya dengan kondisi keuangan, serta mengatur jadwal makan secara lebih teratur.

Strategi makan sehat yang realistis untuk anak kos

Menurut penulis, kunci makan sehat adalah menyusun pilihan makanan yang bervariasi sesuai kebutuhan dan dilakukan secara konsisten. Sejumlah strategi praktis yang disarankan antara lain:

1) Menyusun menu dengan prinsip “Isi Piringku”. Saat membeli makanan di warung, mahasiswa dapat memilih nasi sebagai sumber karbohidrat, telur atau tahu sebagai lauk sumber protein, serta menambahkan sayuran dan buah sebagai sumber serat. Contoh menu yang disebut adalah nasi, tahu orek, telur balado, tumis kangkung, dan semangka. Menu ini dinilai sederhana tetapi tetap menyediakan beragam zat gizi.

2) Mengutamakan bahan pangan yang terjangkau. Telur, tempe, tahu, ikan lokal, dan sayuran disebut dapat menjadi pilihan sumber protein dan zat gizi lainnya. Penulis juga menekankan tidak perlu membeli semua bahan sekaligus; pemilihan bahan dapat disesuaikan dengan anggaran dan dikombinasikan secara bergantian agar tidak cepat bosan.

Pada akhirnya, menjadi anak kos bukan alasan untuk makan sembarangan. Dengan memahami gizi seimbang dan menerapkan langkah-langkah sederhana yang realistis, mahasiswa tetap dapat menjaga kesehatan meski di tengah keterbatasan waktu dan uang.