Puluhan mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi di Kabupaten Garut menggelar unjuk rasa di Alun-alun dan Pendopo Garut, Kamis, 5 Maret 2026. Mereka menuntut kejelasan penanganan hukum tragedi pesta rakyat yang menewaskan tiga warga pada Juli 2025, serta meminta pemerintah daerah menyampaikan perkembangan penyelidikan secara transparan.
Aksi yang dimulai sekitar pukul 14.00 WIB itu diwarnai pembentangan spanduk berisi tuntutan agar aparat penegak hukum membuka proses penanganan kasus secara terbuka kepada publik.
Dalam unjuk rasa tersebut, mahasiswa juga meminta Bupati Garut Abdusy Syakur Amin dan Wakil Bupati Putri Karlina hadir untuk berdialog. Namun hingga aksi berlangsung, keduanya tidak menemui massa. Situasi itu memicu kekecewaan para demonstran.
Perwakilan mahasiswa, Maulana, menyatakan sudah hampir delapan bulan sejak peristiwa terjadi, tetapi masyarakat belum memperoleh informasi yang jelas mengenai perkembangan penyelidikan. Ia menyebut perkara tersebut sempat ditangani Polres Garut sebelum dilimpahkan ke Polda Jawa Barat.
Menurut Maulana, tragedi yang menewaskan tiga orang serta menyebabkan puluhan lainnya luka dan pingsan itu tidak boleh dianggap sebagai peristiwa biasa. Dalam rangkaian aksi, massa juga menyalakan lilin dan menabur bunga sebagai bentuk penghormatan kepada para korban.
Insiden yang dipersoalkan mahasiswa terjadi pada 17 Juli 2025 saat pesta rakyat dalam rangkaian pernikahan Wakil Bupati Garut dengan putra Gubernur Jawa Barat.

