Sebuah lokakarya yang diselenggarakan Institut Kebudayaan, Seni, Olahraga dan Pariwisata Vietnam di bawah Kementerian Kebudayaan, Olahraga dan Pariwisata mempertemukan ilmuwan, lembaga pengelola, institusi pelatihan, pelaku usaha, pengrajin, serta perwakilan masyarakat. Forum ini membahas berbagai solusi untuk memanfaatkan nilai budaya seni kuliner guna mendukung pembangunan pariwisata berkelanjutan.
Dalam diskusi tersebut, para peserta menilai wisatawan kini semakin memprioritaskan pengalaman yang mencerminkan identitas lokal. Karena itu, kuliner dipandang muncul sebagai salah satu pendorong pertumbuhan baru bagi industri pariwisata, seiring meningkatnya tren menjelajahi budaya, gaya hidup, dan cerita di balik hidangan khas suatu daerah.
Isu ini juga menjadi pokok pembahasan dalam konferensi ilmiah bertajuk “Mempromosikan Nilai Budaya Kuliner dalam Membangun Merek Pariwisata Vietnam” yang baru-baru ini berlangsung di Hanoi. Para ahli menilai, dalam tren pariwisata berbasis pengalaman yang berkembang pesat secara global, kuliner tidak lagi sekadar layanan pelengkap, melainkan faktor yang menentukan daya tarik dan daya saing destinasi.
Menurut para delegasi, pengembangan wisata kuliner tidak cukup hanya mempromosikan hidangan populer. Lebih penting adalah membangun ekosistem pengalaman yang menghubungkan makanan dengan ruang budaya, desa kerajinan tradisional, pasar tradisional, festival, adat istiadat, serta kisah masyarakat setempat. Nilai-nilai tak berwujud inilah yang dinilai menciptakan pembeda yang sulit ditiru destinasi lain.
Sejumlah daerah di Vietnam disebut mulai mengadopsi pendekatan tersebut. Da Nang, misalnya, menerapkan program Da Nang Food Tour melalui penyusunan peta kuliner, paspor kuliner, serta penyelenggaraan Festival Da Nang Food Tour. Penyelenggara menyebut tujuan program ini bukan hanya memperkenalkan makanan, tetapi juga menjadikan kuliner sebagai “duta budaya” yang diharapkan berkontribusi pada peningkatan lama tinggal dan pengeluaran wisatawan.
Selain itu, peserta menyoroti pemanfaatan teknologi digital sebagai tren penting dalam pengembangan wisata kuliner. Berbagai platform seperti peta digital, aplikasi wisata kuliner, kecerdasan buatan, realitas virtual, dan video pengalaman dinilai memudahkan wisatawan mengakses informasi tentang hidangan, sejarahnya, rekomendasi tempat makan, hingga rencana perjalanan sebelum tiba di tujuan. Pendekatan ini dipandang penting untuk memperluas promosi, terutama ke pasar internasional.
Meski peluang dinilai besar, sejumlah tantangan masih mengemuka. Produk wisata kuliner Vietnam disebut masih terfragmentasi dan kurang terhubung, kualitas layanan bervariasi antarwilayah, serta standardisasi, pelestarian nilai tradisional, dan pencitraan kuliner tingkat nasional dinilai belum mencapai potensi maksimal.
Dalam pembahasan, beberapa negara di kawasan seperti Thailand, Jepang, Korea Selatan, dan Singapura disebut telah mengembangkan strategi promosi kuliner yang lebih sistematis sehingga memiliki daya saing kuat di pasar internasional.
Karena itu, para ahli mendorong pengembangan pariwisata kuliner secara berkelanjutan dengan budaya sebagai fondasi. Selain melestarikan resep tradisional, mereka menekankan pentingnya pelatihan sumber daya manusia, peningkatan kualitas layanan, serta penguatan keterhubungan antara pertanian, pengolahan, restoran, agen perjalanan, dan masyarakat lokal. Di saat yang sama, promosi internasional dinilai perlu diperkuat melalui festival, acara, sistem pemeringkatan kuliner, serta platform media digital.

