Akhir pekan ini menjadi periode yang kurang menyenangkan bagi para penggemar Liverpool FC. Setelah kekalahan di kandang Swansea pada pekan sebelumnya, kali ini Liverpool kembali menelan kekalahan saat menjamu West Bromwich Albion di Anfield. Tren performa yang tidak konsisten, terutama di paruh kedua musim, kembali menunjukkan tantangan bagi tim yang dijuluki Si Merah.
Meski performa di lapangan kerap naik turun, dukungan dari para penggemar Liverpool tetap kuat. Slogan "You’ll Never Walk Alone" terbukti menjadi kekuatan yang menjaga loyalitas para pendukungnya. Data polling dari goal.com tahun lalu yang melibatkan 42.000 responden global menunjukkan Liverpool berada di posisi lima besar klub dengan basis penggemar terbanyak di dunia, di samping klub-klub besar seperti Manchester United, Barcelona, Real Madrid, dan Chelsea.
Selain itu, Liverpool juga menempati posisi keenam dalam jumlah pengikut media sosial di antara klub-klub sepak bola dunia. Dari sisi kehadiran penonton, Anfield mencatatkan rata-rata tingkat keterisian 97,58% dari kapasitas 54.074 kursi, unggul dari beberapa klub besar Eropa seperti Juventus, Real Madrid, dan Barcelona.
Aspek Finansial yang Menguat
Dari sisi bisnis, Liverpool menunjukkan perkembangan yang signifikan. Chief Commercial Officer Liverpool, Billy Hogan, memperkirakan jumlah penggemar klub mencapai sekitar 580 juta orang di seluruh dunia. Hal ini menjadi potensi besar dalam meningkatkan pendapatan klub.
Menurut laporan Football Money League 2017 dari firma konsultasi keuangan Deloitte, Liverpool menempati peringkat kesembilan dalam daftar klub dengan pendapatan terbesar pada musim 2016/2017, dengan pemasukan mencapai 424,2 juta euro atau sekitar Rp 7 triliun. Pendapatan ini mengalami peningkatan sebesar hampir 76% sejak tahun 2013, dengan rata-rata pertumbuhan tahunan sekitar 15,77% selama periode 2014-2017.
Sumber utama pendapatan Liverpool berasal dari hak siar televisi sebesar 182,5 juta euro (Rp 3,01 triliun), diikuti oleh pendapatan komersial 161,6 juta euro (Rp 2,67 triliun), dan pendapatan dari pertandingan di stadion yang mencapai 80,1 juta euro (Rp 1,32 triliun). Kehadiran kembali Liverpool di Liga Champions Eropa setelah absen selama tiga tahun diperkirakan akan semakin meningkatkan pendapatan klub dari berbagai aspek.
Kondisi Keuangan dan Valuasi Klub
Berdasarkan laporan keuangan The Liverpool Football Club and Athletic Grounds Limited, pada tahun fiskal 2016 Liverpool mencatat kerugian sebesar 19,8 juta poundsterling (Rp 374,22 miliar). Namun, pada tahun berikutnya, pasar memperkirakan klub dapat mencatatkan laba sekitar 21,56 juta poundsterling (Rp 406,35 miliar). Pendapatan Liverpool untuk tahun fiskal 2017 diperkirakan sebesar 348,56 juta poundsterling (Rp 6,59 triliun) dengan pengeluaran 363,5 juta poundsterling (Rp 6,87 triliun), tetapi masih memperoleh keuntungan tambahan dari penjualan pemain sebesar 42 juta poundsterling (Rp 793,8 miliar).
Anfield juga termasuk dalam jajaran 10 besar stadion dengan pendapatan tertinggi di Eropa, dengan pemasukan mencapai 75 juta euro (Rp 1,24 triliun) pada tahun 2016. Valuasi klub menurut Forbes diperkirakan mencapai US$ 1,49 miliar (Rp 19,82 triliun), menempatkan Liverpool di posisi kedelapan sebagai klub terkaya di dunia.
Dimensi Olahraga yang Tak Terpisahkan
Meskipun pencapaian finansial Liverpool cukup mengesankan, klub ini tetap menghadapi tantangan besar di bidang olahraga. Liverpool belum meraih gelar liga domestik selama lebih dari dua dekade, dan trofi kompetitif terakhir yang mereka menangkan adalah Piala Liga sekitar delapan tahun lalu. Hal ini menjadi perhatian utama bagi para penggemar yang menuntut lebih dari sekadar keberhasilan finansial.
Para pendukung Liverpool menegaskan bahwa klub bukan hanya sebuah entitas bisnis, melainkan sebuah entitas olahraga yang haus akan kejayaan dan prestasi. Harapan akan gelar dan keberhasilan di lapangan tetap menjadi prioritas utama yang tidak dapat diabaikan oleh manajemen klub.