JAKARTA — Deddy Corbuzier dikenal memiliki cara bicara yang kerap terkesan mengintimidasi dan mendominasi saat memandu program serta berbicara dengan narasumber. Ia juga dinilai memiliki tingkat percaya diri yang tinggi dan jarang menunjukkan keraguan terhadap kemampuannya.
Deddy kemudian menjelaskan bahwa karakter yang selama ini terlihat di layar tersebut bukan muncul begitu saja, melainkan bagian dari konsep yang pernah ia bangun sejak awal kariernya di dunia hiburan.
Menurut Deddy, ia mulai masuk ke dunia pertelevisian pada usia sekitar 16 atau 17 tahun sebagai pesulap. Pada masa itu, ia merasa perlu mengubah pembawaan agar terlihat lebih matang di atas panggung. Karena itu, ia sengaja menampilkan kesan mendominasi untuk menguasai audiens.
“Ketika di panggung, ketika lu kelihatan (masih) anak-anak, enggak bisa. Jadi aku tuh harus naikin usia sekitar 10 tahun. Pastinya dengan makeup, eye shadow, dan sebagainya supaya mendominasi audiens. Itu memang konsep pada saat itu,” ujar Deddy, dikutip dari kanal YouTube PUELLA ID, Senin (14/6/2021).
Namun, seiring berjalannya waktu, Deddy mengaku menyadari perlunya keluar dari konsep tersebut. Ia menilai gaya yang dibangun itu tidak sepenuhnya sesuai dengan kepribadiannya.
“Karena that's not me (itu bukan saya). Gini, magician is an actor who play magician. Nah pada saat itu I'm an actor who plays as magician,” kata Deddy.
Dalam kesempatan yang sama, Deddy juga menyinggung soal rasa percaya diri. Ia menyebut tidak memiliki insecurity atau kegelisahan terkait kemampuan diri, misalnya keraguan apakah ia cukup mahir dalam pekerjaan tertentu.
“Well it's difficult because I'm good enough (Itu sulit karena saya cukup baik),” ujarnya.
Meski demikian, Deddy mengatakan ia tidak menganggap dirinya sebagai yang terbaik di dunia, termasuk dalam bidang sulap. Ia mencontohkan pencapaiannya yang pernah meraih penghargaan dua kali berturut-turut sebagai the best mentalist in the world, tetapi tetap meyakini dirinya bukan yang terbaik pada saat itu.
“Gue yakin sekali bahwa saya bukan pesulap terbaik di dunia, tentu bukan. Gue menang dua kali berturut-turut sebagai the best mentalist in the world dan gue yakin bahwa gue bukan the best mentalist di dunia pada saat itu,” ucapnya.
Dari pengalamannya, Deddy memandang sukses dan percaya diri tidak selalu berarti menguasai suatu hal secara penuh. Ia menilai seseorang cukup mengetahui sekitar 25 persen dari suatu bidang, tetapi dalam banyak hal, untuk membangun keyakinan diri dan peluang sukses.
“Tapi gue yakin yang namanya sukses atau percaya diri, pada dasarnya adalah mengetahui 25 persen dari sesuatu tapi dalam banyak hal,” ujarnya.
Deddy menyebut targetnya adalah berada di 25 persen teratas dalam beberapa bidang, lalu menggabungkan kemampuan-kemampuan tersebut. Ia menilai kombinasi itu dapat menentukan tingkat kesuksesan seseorang. Ia juga memberi contoh bahwa seorang binaragawan yang tidak bisa berbicara, menurutnya, tidak akan dikenal orang.
“Jadi target gue tuh cuma top 25 persen. Nah tingkat kesuksesannya adalah menggabungkan semua 25 persen itu, karena seorang binaraga, body builder, yang enggak bisa ngomong, enggak akan dikenal orang,” tutur Deddy.
Baginya, setiap orang perlu memiliki rasa percaya diri, sementara hasil akhir merupakan urusan yang datang belakangan.