BERITA TERKINI
Korea Selatan dan Jepang Punya Cara Berbeda Menyikapi Tren Makanan Viral

Korea Selatan dan Jepang Punya Cara Berbeda Menyikapi Tren Makanan Viral

Fenomena makanan viral kian lekat dengan budaya populer. Berkat media sosial, sebuah menu bisa dikenal luas dan mendunia hanya dalam hitungan hari. Namun, respons tiap negara terhadap tren tersebut tidak selalu sama.

Seperti disorot dalam unggahan Instagram @lamama.tv pada Jumat (20/2/2026), Korea Selatan dan Jepang menunjukkan pendekatan yang kontras dalam menyikapi gelombang tren kuliner viral.

Di Korea Selatan, tren makanan baru cenderung cepat diadopsi dan segera meledak. Media sosial disebut berperan kuat dalam membentuk selera publik, sementara dukungan selebritas dan idol K-pop kerap menjadi pendorong utama sebuah produk menjadi viral.

Budaya kuliner di Korea Selatan juga dinilai terbuka terhadap modifikasi dan “remix” ide dari luar negeri. Selama tampilannya menarik, porsinya besar, atau menghadirkan efek “wow”, masyarakat tidak ragu untuk mencoba. Unsur dramatis dan berlebihan bahkan kerap menjadi daya tarik tersendiri.

Karena itu, dessert dengan lelehan cokelat melimpah, topping menjulang, atau tampilan mencolok lebih mudah populer. Dalam konteks ini, sensasi visual menjadi kunci untuk memancing perhatian dan perbincangan.

Sebaliknya, Jepang cenderung lebih berhati-hati dalam mengadopsi tren. Bukan berarti menolak, tetapi proses penerimaannya lebih lambat dan penuh pertimbangan. Tren yang masuk umumnya disesuaikan terlebih dahulu dengan selera lokal.

Masyarakat Jepang disebut mengutamakan keseimbangan rasa, estetika yang rapi, serta kesan elegan. Pada dessert, misalnya, manis yang halus, aftertaste yang bersih, dan harmoni tekstur lebih dihargai dibanding ledakan rasa yang dianggap berlebihan.

Contoh yang kerap dijumpai antara lain olahan kacang merah (anko), dessert matcha, atau cokelat dengan rasa yang lebih ringan dan tidak terlalu manis. Prinsipnya bukan sekadar mengikuti viralitas, melainkan memastikan produk tetap selaras dengan budaya dan preferensi setempat.

Perbedaan selera ini turut memengaruhi cara tren berkembang. Di Korea Selatan, sesuatu yang besar, meleleh, dan dramatis sering dipandang menyenangkan, sehingga elemen spektakuler justru membantu produk menjadi bahan perbincangan luas.

Di Jepang, sesuatu yang terlalu berlebihan bisa dinilai kurang elegan. Presisi dan keseimbangan dianggap lebih penting daripada sensasi sesaat. Tren biasanya muncul lebih dulu di toko niche atau spesialis, kemudian direformulasi agar lebih ringan, tidak terlalu manis, tampil lebih rapi, dan dipasarkan dengan pendekatan yang lebih tenang.

Kontras ini menunjukkan bahwa viralitas tidak selalu diterjemahkan dengan cara yang sama. Ada budaya yang menikmati sensasi dan dramatisasi, sementara yang lain lebih memilih harmoni serta penyempurnaan sebelum sebuah tren benar-benar diterima luas.