Konsep 4 Sehat 5 Sempurna selama bertahun-tahun dikenal luas sebagai panduan masyarakat Indonesia untuk memenuhi kebutuhan gizi harian. Namun seiring perkembangan ilmu gizi, pedoman tersebut kini telah digantikan oleh konsep gizi seimbang yang menekankan keberagaman makanan serta pemenuhan zat gizi sesuai kebutuhan tubuh.
Salah satu perbedaan yang kerap disorot adalah posisi susu. Dalam konsep 4 Sehat 5 Sempurna, susu ditempatkan sebagai unsur kelima yang berfungsi menyempurnakan menu makanan. Sementara dalam pedoman gizi seimbang, susu tidak lagi diposisikan sebagai pelengkap wajib.
Dokter Spesialis Gizi Klinik, dr. Nadhira Afifa, MPH, SpGK, menjelaskan bahwa dalam konsep gizi seimbang, susu tetap dapat dikonsumsi, tetapi tidak harus menjadi komponen tersendiri yang wajib ada dalam setiap menu makan.
“4 Sehat 5 Sempurna udah nggak dipakai lagi actually sekarang,” kata dr. Nadhira, sebagaimana dikutip dari Instagram @bigalphaid, Senin (26/10/2026).
Menurut dr. Nadhira, pedoman gizi seimbang tidak menempatkan susu sebagai satu-satunya pelengkap yang menentukan apakah pola makan seseorang sudah sehat atau belum. Meski begitu, ia menegaskan bahwa susu bukan berarti tidak dianjurkan.
“Bukan nggak direkomendasikan sih, nggak ada bedanya dengan protein lain sebenarnya. Jadi nggak perlu dia dipisah, harus ada sendiri,” ujarnya.
Ia menambahkan, pemenuhan gizi tidak bergantung pada konsumsi susu semata. Kebutuhan zat gizi dapat diperoleh dari berbagai sumber makanan lain, termasuk sumber protein hewani maupun nabati, yang disesuaikan dengan kebutuhan tubuh.