BERITA TERKINI
Kolaborasi Lintas Disiplin di UNDIP Dorong Inovasi AI yang Berpusat pada Manusia

Kolaborasi Lintas Disiplin di UNDIP Dorong Inovasi AI yang Berpusat pada Manusia

Di tengah percepatan transformasi digital global, kecerdasan buatan (AI) kian dipandang bukan sekadar teknologi tunggal, melainkan ruang kolaborasi lintas disiplin yang mempertemukan rekayasa, manajemen, dan informatika. Semangat ini tercermin dalam kajian kolaboratif Dr. Mohamad Endy Julianto, dosen TRKI Vokasi Universitas Diponegoro (UNDIP), bersama Mohammad Nabil Kurnianto, mahasiswa Manajemen FEB UNDIP, dan Mohammad Najib Fitrianto, mahasiswa Informatika FMIPA UNDIP, yang membahas arah digitalisasi produk inovasi berbasis AI dengan orientasi pada manusia.

Dalam perspektif rekayasa kimia industri, Dr. Mohamad Endy Julianto menempatkan AI sebagai fondasi strategis untuk mempercepat desain produk, optimasi proses, hingga pengambilan keputusan berbasis data dalam siklus inovasi. Namun, ia menekankan bahwa inovasi tidak berhenti pada kecanggihan teknis. Produk juga perlu siap dihilirkan, memiliki nilai ekonomi, serta mudah diadopsi pengguna. Dalam kerangka ini, AI diposisikan sebagai penguat kreativitas insinyur, bukan pengganti peran manusia.

Sudut pandang tersebut diperluas oleh Mohammad Nabil Kurnianto yang menilai AI sebagai instrumen strategis dalam manajemen dan pemasaran modern. Menurutnya, AI memungkinkan pemahaman perilaku konsumen secara lebih presisi, personalisasi pengalaman pelanggan, serta pengambilan keputusan bisnis berbasis insight real-time. Ia menegaskan, teknologi menjadi bernilai ketika mampu menjawab kebutuhan pasar dan menghadirkan pengalaman pelanggan yang relevan, sehingga AI berperan sebagai penghubung antara inovasi teknis dan keberhasilan komersial.

Sementara itu, Mohammad Najib Fitrianto mengangkat aspek fundamental melalui kajian Human–AI Interaction dan UX untuk sistem cerdas. Ia menekankan pentingnya merancang interaksi manusia dengan AI secara intuitif, transparan, dan dapat dipercaya. Pendekatan UX, explainable AI, serta antarmuka cerdas dipandang dapat membuat teknologi hadir sebagai mitra yang memahami manusia, sekaligus menjadi kunci agar produk berbasis AI diterima luas dan digunakan secara berkelanjutan.

Ketiga perspektif tersebut bertemu pada satu benang merah: AI perlu berpusat pada manusia. Inovasi dinilai akan lebih kuat ketika lahir dari rekayasa yang presisi, dikelola dengan strategi bisnis yang cerdas, dan diwujudkan melalui pengalaman pengguna yang bermakna. Kolaborasi lintas disiplin ini juga mencerminkan arah pendidikan tinggi yang menempatkan dosen dan mahasiswa dari berbagai rumpun keilmuan dalam satu meja kerja untuk merancang solusi yang utuh.

Kajian dari TRKI Vokasi, FEB, hingga FMIPA UNDIP itu menegaskan bahwa masa depan inovasi digital tidak semata ditentukan oleh tingkat kecanggihan teknologi, melainkan oleh kemampuan menyatukan teknologi, nilai manusia, dan dampak nyata dalam penerapannya.