BERITA TERKINI
Kepala BGN Sebut Pernah Bisulan Usai Sering Makan Telur, Ahli Gizi: Itu Mitos

Kepala BGN Sebut Pernah Bisulan Usai Sering Makan Telur, Ahli Gizi: Itu Mitos

Pernyataan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono soal pengalaman masa kecilnya yang sering mengonsumsi telur hingga mengaku mengalami bisulan memicu perbincangan di masyarakat. Sejumlah pihak mempertanyakan apakah konsumsi telur memang dapat menyebabkan bisul.

Sudaryono baru dilantik Presiden Prabowo Subianto sebagai Kepala BGN, menggantikan Nanik S Deyang yang mundur karena alasan kesehatan. Usai pelantikan di Istana Negara, Jakarta, Rabu (22/7), Sudaryono membagikan cerita masa kecilnya saat menjelaskan pentingnya pemenuhan gizi melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Dikutip dari YouTube Sekretariat Presiden, Sudaryono mengatakan ia tumbuh di Grobogan, Jawa Tengah, dan sejak kecil terbiasa makan telur karena keluarganya memelihara ayam. Ia menyebut ikan tidak mudah didapat karena wilayah tempat tinggalnya jauh dari pantai.

“Saya sendiri anak dari desa. Ibu saya memelihara ayam di pojok rumah, dan saya selalu makan itu sampai, maaf, sampai bisulan di mana-mana. Saya merasa bisa tumbuh berkembang karena telur, karena ikan jarang di Grobogan yang jauh dari pantai,” ujar Sudaryono.

Ia menilai pengalaman itu memperkuat keyakinannya tentang pentingnya asupan gizi. Menurutnya, program MBG tidak hanya ditujukan untuk mengatasi rasa lapar, tetapi juga memenuhi kebutuhan gizi masyarakat sekaligus mendukung perekonomian desa melalui pemberdayaan peternak.

Namun, ahli gizi menegaskan anggapan bahwa telur menyebabkan bisulan tidak didukung bukti ilmiah. Ahli gizi Siti Soraya mengatakan hingga saat ini belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan konsumsi telur, termasuk dalam jumlah banyak pada orang sehat, dapat memicu bisul.

“Ini mitos yang perlu diluruskan. Telur mengandung protein berkualitas tinggi dengan asam amino esensial yang lengkap, vitamin A, vitamin B12, dan kolin yang dibutuhkan tubuh. Protein justru mendukung perbaikan jaringan serta fungsi sistem imun, bukan memicu terbentuknya bisul,” kata Siti Soraya (23/7).

Siti menjelaskan, bisul pada dasarnya disebabkan oleh infeksi bakteri, bukan oleh makanan tertentu. Bila bisul muncul setelah seseorang mengonsumsi telur, kondisi itu bisa terjadi secara bersamaan karena infeksi bakteri memerlukan waktu beberapa hari untuk berkembang.

Ia menambahkan, sebagian kecil orang dapat mengalami alergi telur, tetapi gejala yang timbul umumnya berupa ruam atau gatal, bukan bisul. Menurutnya, reaksi alergi perlu dibedakan dari infeksi kulit karena mekanisme dan penanganannya berbeda. Alergi telur merupakan reaksi sistem imun terhadap protein dalam putih atau kuning telur, dengan gejala yang biasanya muncul dalam beberapa menit hingga dua jam setelah konsumsi.

Lebih lanjut, Siti menyebut pembatasan konsumsi telur pada umumnya hanya diperlukan pada kondisi tertentu, misalnya pada orang yang telah didiagnosis alergi telur. Di luar itu, telur tetap dinilai sebagai sumber protein hewani yang baik dan mengandung berbagai zat gizi penting untuk mendukung fungsi kekebalan tubuh serta proses penyembuhan jaringan.

“Jadi intinya telur tidak menyebabkan bisulan. Konsumsi telur termasuk dalam jumlah cukup banyak tidak terbukti menyebabkan bisulan. Bisul merupakan infeksi bakteri. Dari sisi gizi, telur justru merupakan sumber protein dan berbagai mikronutrien penting yang mendukung fungsi imun dan penyembuhan jaringan,” ujar Siti.