Kementerian Kesehatan pada 19 Oktober meluncurkan Pekan “Gizi dan Pembangunan” 2026 yang digelar pada 16–23 Oktober. Kegiatan ini diselenggarakan sebagai respons terhadap peringatan Hari Pangan Sedunia pada 16 Oktober, dengan tema “Inovasi Hari Ini – Gizi Baik Besok.”
Wakil Direktur Institut Gizi Nasional, Dr. Nguyen Hong Truong, menjelaskan bahwa pekan tersebut membawa pesan “Menginovasi sistem pangan menuju keberlanjutan, menerapkan pola makan sehat untuk kesehatan hari ini dan esok.” Menurutnya, inovasi yang ditekankan tidak hanya terkait teknologi dan produk, tetapi juga pengaturan makanan, transparansi informasi, serta panduan praktis agar masyarakat lebih mudah memilih dan mempertahankan pola makan sehat dalam keseharian.
Data Institut Gizi Nasional tahun 2024 menunjukkan, prevalensi malnutrisi nasional pada anak di bawah usia lima tahun tercatat 14,8% untuk stunting, 8,3% untuk kekurangan berat badan, dan 4,8% untuk wasting. Sementara itu, angka kelebihan berat badan/obesitas pada kelompok usia ini mencapai 5,9%.
Angka stunting juga bervariasi antardaerah. Prevalensi tertinggi tercatat di wilayah Midlands Utara dan Pegunungan sebesar 20,3%, serta Pesisir Selatan Tengah dan Dataran Tinggi Tengah sebesar 20,0%. Data tersebut menegaskan perlunya peningkatan kualitas makanan dan penguatan perawatan gizi anak, terutama di wilayah dengan tingkat malnutrisi yang lebih tinggi.
Kepala Departemen Gizi Masyarakat Institut Gizi Nasional, Dr. Hoang Thi Duc Ngan, menyoroti tantangan lain berupa penyakit tidak menular yang disebut menyumbang sekitar 78% dari seluruh kematian akibat berbagai penyebab di Vietnam. Survei nasional terbaru tentang faktor risiko penyakit tidak menular mencatat konsumsi garam rata-rata orang dewasa usia 18–69 tahun mencapai 8,1 gram per hari, lebih tinggi dari rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia yang menetapkan kurang dari 5 gram per hari. Dalam kelompok usia yang sama, prevalensi kelebihan berat badan dan obesitas mencapai 19,5%.
Pada anak-anak, Dr. Ngan menyebut angka kelebihan berat badan dan obesitas meningkat 2,2 kali lipat antara 2010 dan 2020. Dalam konteks ini, ia menilai informasi gizi yang transparan dapat membantu masyarakat menentukan pilihan makanan yang lebih tepat.
Dr. Ngan menekankan perawatan gizi perlu diterapkan sejak usia sehat dan berlanjut sepanjang kehidupan, terutama bagi ibu hamil, ibu menyusui, anak-anak, lansia, serta kelompok rentan. Pada 1.000 hari pertama kehidupan, perhatian diarahkan pada gizi prenatal, pemberian ASI, pemberian makanan pendamping yang tepat, dan keamanan pangan.
Untuk anak usia sekolah, ia menyatakan keluarga, sekolah, dan fasilitas kesehatan perlu berkolaborasi dalam perawatan makanan, pendidikan gizi, dorongan aktivitas fisik, serta pemantauan pertumbuhan. Ia juga mengingatkan agar upaya tersebut dilakukan tanpa tekanan citra tubuh atau pengendalian berat badan yang tidak aman.
Bagi orang dewasa dan lansia, pola makan perlu disesuaikan dengan kondisi kesehatan, kemampuan makan, dan tingkat aktivitas fisik. Dukungan juga diperlukan bagi mereka yang memiliki keterbatasan akses terhadap makanan, keterampilan menyiapkan makanan, atau kemampuan mengonsumsi makanan. Di wilayah kurang beruntung, komunikasi dinilai perlu diintegrasikan dengan konseling dan penilaian gizi, penghubung layanan, serta koordinasi lintas sektor—kesehatan, pendidikan, mata pencaharian, dan pengurangan kemiskinan—agar masyarakat dapat menerapkan praktik gizi yang dianjurkan.
Untuk memanfaatkan informasi gizi secara efektif, Dr. Ngan menyarankan konsumen menerapkan prinsip “Baca label – Pahami dengan benar – Bandingkan – Pilih dengan tepat.” Ia mengingatkan agar masyarakat memperhatikan nilai gizi yang dihitung per 100 gram, 100 mililiter, per porsi, atau per kemasan; tidak menentukan pilihan hanya berdasarkan satu jenis nutrisi atau iklan; memverifikasi informasi dari sumber resmi; serta mencari nasihat bila diperlukan.
Selain itu, pelaku usaha didorong menyediakan informasi yang jelas dan tidak ambigu. Lembaga pengatur dan media juga dinilai memiliki peran membimbing masyarakat menerapkan pengetahuan tersebut saat membeli, menyiapkan, dan mengonsumsi makanan.
Pekan “Gizi dan Pembangunan” 2026 turut mendorong keluarga meningkatkan kualitas makanan, memastikan keamanan pangan, dan mengurangi pemborosan melalui kebiasaan makan beragam, kombinasi kelompok makanan yang seimbang, pemanfaatan sumber pangan lokal, serta metode memasak yang tepat.
Para ahli menekankan bahwa meningkatkan kualitas makanan tidak selalu berarti memilih makanan mahal atau menambah pengeluaran. Upaya itu dapat dilakukan melalui perencanaan menu, belanja sesuai kebutuhan, pengendalian biaya, serta menghindari pemborosan. Pola makan juga diimbau disesuaikan dengan usia, kondisi kesehatan, tingkat aktivitas, dan kemampuan ekonomi. Bagi mereka yang memiliki kondisi medis atau kebutuhan khusus, disarankan mencari nasihat profesional.
Dalam penyediaan makanan di kantin sekolah, lembaga, dan perusahaan katering, peninjauan menu disarankan disertai pencatatan jumlah makanan tersisa dan pengumpulan umpan balik dari pengguna. Target pengurangan limbah juga diingatkan harus sejalan dengan pemenuhan kualitas gizi, bukan semata-mata mengurangi jumlah makanan atau ukuran porsi.
Secara keseluruhan, Pekan “Gizi dan Pembangunan” 2026 menyerukan kolaborasi keluarga, sekolah, pelaku usaha, sektor kesehatan, dan lembaga pengatur untuk membangun lingkungan pangan yang aman dan sehat. Fokusnya mencakup peningkatan kualitas makanan, transparansi informasi, pengurangan pemborosan, serta dukungan akses layanan gizi, dengan tujuan mendorong kebiasaan makan sehat dan pemanfaatan ilmu pengetahuan serta teknologi bagi kesehatan masyarakat.