Kedutaan Besar India di Jakarta bersama MicroSave Consulting (MSC), India Indonesia Chamber of Commerce (IndCham), serta Women Entrepreneurship Platform (WEP) di bawah NITI Aayog menggelar acara resmi Pra-KTT AI Impact Summit 2026 bertajuk People, Planet, Progress: Dialog India–Indonesia tentang AI Inklusif. Kegiatan ini berlangsung di Le Meridien Jakarta pada Rabu (21/1).
Forum tersebut mempertemukan pejabat pemerintah senior, pemimpin industri, mitra pembangunan global, serta pakar teknologi dari India dan Indonesia. Agenda utamanya adalah memperdalam kerja sama pengembangan kecerdasan buatan (AI) yang bertanggung jawab, berpusat pada manusia, dan berlandaskan tata kelola etis.
Duta Besar India untuk Indonesia menegaskan peran strategis AI dalam mendorong kemaslahatan sosial dan pembangunan berkelanjutan. Ia menyebut AI berpotensi meningkatkan kualitas layanan publik, memperluas inklusi keuangan, serta memperkuat sistem perlindungan sosial berbasis kebutuhan. Namun, tantangan bersama adalah memastikan teknologi tersebut benar-benar melayani masyarakat.
India dan Indonesia disebut tengah bekerja sama erat, termasuk melalui peran Indonesia sebagai negara ketua bersama dalam kelompok kerja AI untuk Pertumbuhan Ekonomi dan Kemaslahatan Sosial. Dialog di Jakarta ini diposisikan sebagai landasan menuju AI Impact Summit 2026 yang dijadwalkan berlangsung di New Delhi pada 19–20 Februari 2026, di bawah koordinasi Kementerian Elektronika dan Teknologi Informasi India.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Indonesia, Nezar Patria, menyoroti peluang yang muncul dari pertumbuhan ekonomi digital kedua negara. Menurutnya, ekonomi digital Indonesia diproyeksikan mencapai sekitar 330 miliar dolar AS pada 2030, sementara ekonomi digital India berada pada jalur menuju 1 triliun dolar AS. Ia menilai pertumbuhan paralel ini membuka peluang strategis untuk memanfaatkan AI dalam menjawab tantangan publik, mulai dari inklusi keuangan hingga ketahanan iklim.
Nezar juga menekankan pentingnya penguatan komitmen terhadap konsep Sovereign AI di tengah dinamika geopolitik global. Ia menyatakan kemampuan negara untuk membangun, mengatur, dan menerapkan AI dengan memanfaatkan data, talenta, dan infrastruktur sendiri menjadi kunci menjaga kedaulatan digital.
Diskusi turut menyinggung perlunya pendekatan menyeluruh dalam pengembangan AI, termasuk aspek perangkat keras dan rantai pasok semikonduktor. Nezar menyebut Indonesia dengan kekayaan sumber daya mineralnya dan India dengan misi semikonduktornya yang ambisius berada pada posisi unik untuk membangun rantai pasok teknologi yang terintegrasi dan tangguh. Ia menilai kolaborasi tersebut penting agar negara-negara Global South tidak hanya menjadi konsumen teknologi, tetapi juga produsen dan inovator teknologi dasar abad ke-21.
Duta Besar India untuk Indonesia, Sandeep Chakravorty, menegaskan AI Impact Summit 2026 akan menempatkan dampak nyata sebagai fokus utama. Ia mengatakan forum itu tidak hanya membahas cara memanfaatkan AI, tetapi juga bagaimana AI dapat secara konkret meningkatkan kualitas hidup serta menjembatani kesenjangan sosial dan ekonomi, dengan tantangan terbesar pada aspek inklusivitas. Ia menambahkan, posisi India sebagai representasi Global South membuka ruang pembelajaran multidimensi antarnegara, termasuk dari pengalaman Indonesia.
Dari sektor industri, President Director dan CEO Indosat Ooredoo Hutchison, Vikram Sinha, menekankan pentingnya kolaborasi lintas industri untuk menerjemahkan visi kebijakan AI menjadi dampak ekonomi. Ia menyoroti interoperabilitas sistem AI, kemitraan bisnis India–Indonesia, serta penguatan ekosistem startup dan UMKM sebagai fondasi agar AI tidak berhenti pada inovasi teknologi, melainkan mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berdaya saing.
Sementara itu, Programme Director dan Mission Director Women Entrepreneurship Platform, Anna Roy, menekankan komitmen India dalam mendorong inovasi AI yang dipimpin oleh perempuan. Menurutnya, ekosistem AI yang inklusif perlu menjamin akses setara terhadap keterampilan, perangkat, dan peluang bagi perempuan serta inovator muda di kawasan.
Acara ini juga menghadirkan diskusi panel strategis yang melibatkan pembuat kebijakan, sektor swasta, lembaga filantropi, dan organisasi pembangunan multilateral. Panel membahas penguatan kerja sama Selatan–Selatan, interoperabilitas data, digital public goods, serta peran AI dalam pemberdayaan tenaga kerja dan UMKM.
Direktur Infrastruktur, Ekosistem, dan Keamanan Digital Kementerian PPN/Bappenas, Andianto Haryoko, menyatakan AI dan transformasi digital merupakan pilar penting pembangunan jangka menengah dan panjang Indonesia. Ia menekankan AI perlu mendorong transformasi ekonomi dan memperkuat layanan publik, dengan memastikan manfaatnya dirasakan seluruh lapisan masyarakat, termasuk perempuan, pekerja informal, dan UMKM.
Rangkaian kegiatan ditutup oleh Grace Retnowati, Partner dan Country Head MSC Southeast Asia. Ia menegaskan komitmen MSC untuk mendorong pengembangan AI yang berpusat pada manusia di Asia Tenggara, dengan menekankan nilai AI pada kemampuan menjunjung martabat manusia, memperluas kesempatan, dan memberdayakan komunitas melalui desain sistem yang bertanggung jawab serta dapat diakses luas.
Melalui AI Pre-Summit 2026 ini, India dan Indonesia menegaskan kembali komitmen membangun ekosistem AI yang inklusif, etis, dan berdampak nyata, sejalan dengan aspirasi negara-negara Global South dan prinsip people, planet, progress.

