Menu makanan kerap menjadi pos pengeluaran terbesar dalam penyelenggaraan tahlilan di sejumlah desa. Dalam praktiknya, suguhan untuk tamu tidak semata urusan jamuan, melainkan juga berkaitan dengan standar kepantasan yang berkembang di masyarakat dan dapat membebani keluarga yang sedang berduka.
Di berbagai wilayah perdesaan, menu tahlilan disebut memiliki semacam “kasta” yang mengikuti tahapan peringatan kematian. Mulai dari malam pertama hingga tujuh harian (mitung dino), empat puluh harian (matang puluh), seratus harian (nyatus), satu tahun (mendhak), hingga seribu harian (nyewu), standar hidangan cenderung meningkat dan kerap dianggap perlu diikuti, baik oleh keluarga mampu maupun kurang mampu.
Pada peringatan awal, yakni malam pertama sampai hari ketujuh, menu yang dianggap paling standar biasanya berbahan ayam. Olahannya bisa beragam, seperti digoreng, dimasak kari, atau opor. Hidangan ini umumnya dilengkapi lauk pendamping seperti urap sayur dan pelengkap lain, dengan proses memasak yang sering dibantu tetangga melalui tradisi rewang sejak pagi.
Memasuki peringatan empat puluh harian, standar jamuan disebut naik kelas. Daging kambing menjadi menu yang lazim dan kerap diolah menjadi tongseng atau gulai. Salah satu alasan yang kerap dipakai adalah jumlah tamu yang biasanya lebih banyak dibanding tahlilan hari-hari awal. Jika pada tujuh hari pertama tamu cenderung terbatas pada kelompok tahlil rutin dan tetangga terdekat, pada empat puluh harian undangan dapat meluas hingga ke lingkungan RT lain, bahkan mencakup satu dusun bagi keluarga yang dianggap terpandang.
Beban biaya disebut makin terasa pada peringatan seratus harian, satu tahun, hingga seribu harian. Pada tahap ini, daging sapi kerap dipandang sebagai kasta tertinggi sekaligus syarat yang sulit ditawar, terutama pada mendhak dan nyewu. Olahannya pun sering dibuat lebih “mewah”, misalnya dimasak kari atau bestik, disertai sambal goreng kentang dan cabai.
Dalam hitungan biaya, harga daging sapi kualitas standar disebut berkisar Rp150 ribu per kilogram. Untuk menjamu puluhan hingga ratusan tamu, tuan rumah diperkirakan membutuhkan sekitar 10–15 kilogram daging sapi. Angka tersebut baru untuk daging mentah, belum termasuk bumbu, beras, kerupuk, kue-kue jajan pasar, serta kebutuhan cangkingan atau nasi besek yang dibawa pulang tamu. Jika diakumulasi, total pengeluaran dapat menembus belasan juta rupiah.
Selain mengikuti pakem utama berbasis daging, belakangan muncul modifikasi dalam bentuk variasi olahan yang dianggap lebih kekinian. Ada menu yang bergeser ke sate-satean atau bakso daging yang memerlukan upaya memasak lebih besar. Bahkan, disebut ada keluarga yang mendatangkan gerobak mi ayam bakso ke halaman rumah sehingga tamu dapat memesan langsung seperti dalam hajatan. Praktik semacam ini dinilai berpotensi menaikkan standar kepantasan di mata warga, yang pada akhirnya dapat menjadi beban tersendiri bagi keluarga lain di kemudian hari.
Di sisi lain, sebagian warga—terutama anak muda—mulai mendorong agar suguhan tahlilan disesuaikan dengan kemampuan keluarga. Namun, upaya ini kerap berhadapan dengan keyakinan yang masih kuat di kalangan generasi tua. Di beberapa tempat, masih ada anggapan bahwa bila menu tidak mengikuti standar “kasta” tersebut, tahlilan dianggap kurang afdal dan doa dikhawatirkan “tidak sampai”.
Ketakutan terhadap sanksi sosial dan mitos semacam itu disebut menjadi alasan mengapa sebagian keluarga, termasuk yang kurang mampu, tetap memaksakan diri memenuhi standar menu, bahkan sampai berutang. Dalam situasi tersebut, tahlilan yang semestinya menjadi ruang doa dan penguatan sosial bagi keluarga berduka bisa berubah menjadi beban finansial yang berat.