BERITA TERKINI
Jaket “China Track Top” Adidas Viral di TikTok, Padukan Gaya Tangzhuang dan Streetwear

Jaket “China Track Top” Adidas Viral di TikTok, Padukan Gaya Tangzhuang dan Streetwear

Jaket “China Track Top” dari Adidas menjadi perbincangan luas di media sosial, terutama TikTok, setelah dirilis sebagai penghormatan untuk Ano Novo Chinês atau Festival Musim Semi. Produk yang memadukan elemen busana tradisional Tangzhuang dengan potongan sporty kontemporer ini dilaporkan cepat terjual habis di sejumlah pasar, termasuk setelah ekspansinya ke Eropa pada Februari 2026.

Jaket tersebut pertama kali diperkenalkan dalam ajang Shanghai Fashion Week pada Oktober 2025. Sejak itu, konten yang menampilkan desainnya mengumpulkan jutaan penayangan dan ikut mendorong lonjakan minat. Dalam konteks ini, Adidas juga disebut menerapkan strategi lokalisasi untuk pasar Tiongkok, yang berkontribusi pada peningkatan penjualan di wilayah tersebut.

Dari sisi desain, jaket ini mempertahankan ciri khas gaya Tang, seperti kerah mandarin yang berdiri serta kancing dekoratif dari tali yang dikenal sebagai pankou. Detail tersebut merujuk pada kostum Magua dari Dinasti Qing pada abad ke-17, namun diadaptasi menjadi siluet yang lebih modern dan fungsional. Varian warna abu-abu tua dan merah anggur disebut sebagai versi yang paling banyak dicari.

Berbeda dari pendekatan yang mengandalkan simbol-simbol yang dianggap klise, seperti naga, desain jaket ini menonjolkan kesan seimbang yang dikaitkan dengan inspirasi konsep seperti Taoisme dan Tai Chi. Pendekatan tersebut membuatnya dipandang lebih serbaguna sebagai pakaian sehari-hari, sekaligus menghadirkan unsur tradisi dalam konteks modern.

Viralnya jaket ini terjadi bersamaan dengan menguatnya tren yang kerap disebut sebagai “gaya Chinese baru”, yang terlihat di e-commerce maupun gaya jalanan di Tiongkok. Dalam tren yang sama, item seperti rok dan mamian juga disebut menjadi bagian dari gerakan menghidupkan kembali warisan budaya dalam bentuk yang lebih kekinian.

Di TikTok, video pendek yang menampilkan pengguna membagikan jaket tersebut kepada anggota keluarga tercatat meraih lebih dari 2,6 juta penayangan. Konten lain dengan lebih dari 1 juta penayangan memperlihatkan orang mengenakan versi abu-abu tua dalam aktivitas sehari-hari. Sejumlah influencer dan model Tiongkok, termasuk Ho Kon, turut disebut membantu memperluas jangkauan tren tersebut.

Di luar Tiongkok, pembuat konten di Toronto dan kota-kota lain yang memiliki komunitas Asia juga membuat video bernuansa sindiran maupun penghormatan terhadap tren ini. Konten semacam itu dinilai memperkuat hubungan emosional dengan akar budaya, terutama di kalangan diaspora Asia.

Di Tiongkok, toko-toko Adidas di kota besar dilaporkan menghadapi stok terbatas atau kehabisan persediaan. Sementara di Eropa, jaket ini disebut mencapai harga tinggi di situs penjualan kembali, dengan nilai yang setara hingga 400 dolar.

Fenomena ini muncul di tengah meningkatnya kepercayaan budaya Tiongkok. Adidas mencatat pertumbuhan penjualan sebesar 10% di China pada 2024 setelah periode penurunan, yang dikaitkan dengan strategi mengintegrasikan elemen lokal ke dalam koleksi.

Sejumlah pakar fesyen menilai desain jaket tersebut sebagai cara mengekspresikan identitas Tiongkok modern. Di sisi konsumen, beberapa menyebut penggunaan jaket itu membuat mereka merasa terhubung kembali dengan asal-usulnya. Perpaduan tradisi dan streetwear juga disebut menarik perhatian audiens muda, termasuk Generasi Z serta diaspora di berbagai negara.

Awalnya, ketersediaan jaket ini terbatas di China sebelum diperluas ke pasar Asia seperti Singapura dan Malaysia. Ketika masuk ke Eropa pada Februari 2026, permintaan dilaporkan langsung tinggi, dengan warna tertentu cepat habis. Adidas disebut masih memantau minat pasar untuk kemungkinan pengisian ulang stok atau menghadirkan variasi.

Secara keseluruhan, popularitas “China Track Top” menunjukkan bagaimana elemen budaya tradisional dapat memperoleh tempat di pasar modern ketika diadaptasi secara kontemporer, sekaligus memperlihatkan peran media sosial dalam membentuk status sebuah produk menjadi barang yang dicari.