Asosiasi Franchise Indonesia (AFI) bersama Neo Expo Promosindo kembali menggelar Indonesia Franchise Week (IFW) 2025 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Tangerang. Pameran waralaba ini dijadwalkan berlangsung pada 30 Oktober hingga 2 November 2025.
IFW 2025 mengusung tema “Energizing Entrepreneurship” dan diposisikan sebagai ajang berskala internasional yang mempertemukan pelaku usaha, investor, serta calon wirausahawan untuk menangkap peluang bisnis di tengah dinamika ekonomi.
Penyelenggara menyebut IFW 2025 menghadirkan lebih dari 289 brand dengan 187 booth, menjadikannya pameran waralaba terbesar di Indonesia pada tahun ini. Sejumlah paviliun luar negeri dari Korea, Malaysia, Taiwan, Filipina, hingga Prancis turut meramaikan acara dengan menampilkan referensi usaha serta peluang kerja sama lintas negara.
Ketua AFI Anang Sukandar mengatakan pameran ini diharapkan menjadi ruang bagi publik untuk menemukan mitra bisnis yang legal, aman, dan potensial, seiring menguatnya tren digitalisasi ekonomi. “Kami ingin mendorong lebih banyak wirausahawan Indonesia naik kelas lewat sistem franchise yang sehat, terdaftar, dan berdaya saing global,” ujarnya dalam opening ceremony IFW di ICE BSD, Tangerang, Jumat (31/10/2025).
Di area pameran, sektor kuliner menjadi salah satu kategori yang menonjol dengan kehadiran berbagai brand makanan dan minuman, antara lain Kopi Dari Hati, Dum-Dum Thai Tea, Sour Sally, Burger Bangor, Es Teler 77, dan Ayam Gepuk Pak Gembus.
Selain kuliner, IFW 2025 juga menampilkan ragam bisnis modern lain seperti laundromat, klinik kecantikan, pendidikan anak, hingga otomotif. Sejumlah pelaku usaha di bidang kecantikan, kesehatan, dan gaya hidup seperti Martha Tilaar Spa, Apotek K-24, dan Kimaya Spa turut hadir membuka peluang kerja sama.
Penyelenggara menargetkan 12.000 pengunjung selama pelaksanaan IFW 2025. Ajang ini juga disebut didukung lintas kementerian serta dihadiri 24 delegasi internasional, dengan tujuan memperkuat ekosistem kewirausahaan nasional melalui pertemuan strategis antara pelaku bisnis, investor, dan pemangku kebijakan.

