BERITA TERKINI
Hari Gizi Nasional dan Pergeseran Pedoman dari 4 Sehat 5 Sempurna ke Gizi Seimbang

Hari Gizi Nasional dan Pergeseran Pedoman dari 4 Sehat 5 Sempurna ke Gizi Seimbang

Pedoman makan sehat “4 sehat 5 sempurna” pernah menjadi slogan yang akrab di masyarakat Indonesia. Konsep ini pertama kali dipopulerkan Prof. Poerwo Soedarmo pada 1950-an dan merujuk pada slogan “basic four” di Amerika Serikat yang diperkenalkan pada 1940-an.

Di Amerika, “basic four” ditujukan untuk mencegah pola makan yang cenderung tinggi lemak, tinggi gula, dan kurang serat. Namun, survei pada 1970 menunjukkan pedoman tersebut belum mampu memperbaiki pola makan masyarakat, ditandai dengan meningkatnya penyakit degeneratif terkait gizi. Karena itu, slogan tersebut diperbarui menjadi “Nutrition Guide for Balance Diet” dengan simbol piramida.

Perkembangan serupa juga terjadi di Indonesia. Seiring kemajuan ilmu dan teknologi, pedoman “4 sehat 5 sempurna” dinilai tidak lagi sepenuhnya sesuai. Setelah melalui proses pertimbangan yang panjang, pada 2009 pedoman tersebut digantikan oleh Pedoman Gizi Seimbang (PGS). Secara resmi, PGS tercantum dalam Undang-Undang Kesehatan Nomor 36 Tahun 2009.

Berbeda dari konsep sebelumnya, Pedoman Gizi Seimbang menekankan bahwa kebutuhan gizi tidak berlaku sama untuk setiap orang. Penerapannya dapat berbeda berdasarkan golongan usia, status kesehatan, serta aktivitas fisik.

PGS juga menyoroti pentingnya jenis dan proporsi makanan yang disesuaikan dengan kebutuhan tubuh. Selain itu, pedoman ini menganjurkan perhatian pada aspek di luar makanan, seperti kebersihan makanan, aktivitas fisik, dan pola hidup sehat lainnya.

Dalam PGS, susu tidak lagi diposisikan sebagai “makanan sempurna” sebagaimana pada konsep “4 sehat 5 sempurna”. Susu dipandang sebagai salah satu sumber protein hewani yang juga dapat diperoleh dari telur, ikan, dan daging. Bahkan, dari sisi kualitas protein, telur disebut lebih direkomendasikan karena daya cerna proteinnya dinilai lebih tinggi dibandingkan susu.