BERITA TERKINI
Hangry Perluas Ekosistem Kuliner, Akuisisi Accha dan Buka Peluang Kolaborasi dengan Brand F&B

Hangry Perluas Ekosistem Kuliner, Akuisisi Accha dan Buka Peluang Kolaborasi dengan Brand F&B

Perusahaan kuliner Hangry mencatat pertumbuhan pesat dalam tiga tahun terakhir sejak mulai beroperasi pada akhir 2019. Sejak awal, Hangry menyatakan ingin menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat melalui sajian makanan dari brand yang dikembangkan sendiri, dengan fokus utama pada layanan pesan antar.

Didirikan berangkat dari kecintaan para pendirinya terhadap makanan, Hangry membawa target yang lebih ambisius, yakni membangun bisnis kuliner yang mampu berkembang secara global. Dengan model bisnis tersebut, Hangry menyebut telah melayani konsumen perkotaan di Indonesia, tumbuh lebih dari 23 kali lipat dalam dua tahun beroperasi, serta memiliki lebih dari 70 outlet hingga saat ini.

Tahun 2021 menjadi fase penting bagi perusahaan karena untuk pertama kalinya Hangry merambah layanan restoran makan di tempat (dine-in). Memasuki 2022, Hangry melanjutkan langkah ekspansi melalui akuisisi Accha, brand Indian soul food.

Co-founder dan CEO Hangry, Abraham Viktor, mengatakan keputusan tersebut berawal dari pengamatan terhadap pertumbuhan Accha. Setelah melalui sejumlah pembicaraan, kedua pihak menilai memiliki kesamaan visi, misi, dan filosofi dalam membangun brand. Menurut Abraham, kesamaan itu menjadi dasar keyakinan bahwa keduanya dapat tumbuh lebih cepat dan efisien ketika berada dalam satu perusahaan.

Accha resmi bergabung dengan Hangry pada kuartal pertama 2022. Accha didirikan pada 2019 dan dikenal sebagai pelopor Indian soul food ringkas di Jakarta. Brand ini menawarkan menu Indian soul food dengan sentuhan cita rasa lokal, disajikan secara ringkas, dan dipasarkan dengan harga terjangkau.

Co-founder Accha, Yohan Andrean Suryadinata, menilai ada potensi besar bagi makanan India untuk diterima lebih luas di Indonesia. Ia mencontohkan kemiripan sejumlah hidangan India dengan makanan khas Padang, seperti kari. Namun, menurutnya, makanan India belum dinikmati secara luas seperti halnya makanan Padang, meskipun memiliki kemiripan.

Seperti Hangry, Accha juga dibangun dengan model bisnis yang berfokus pada layanan pesan antar. Dalam periode 2019 hingga 2021, Accha disebut berhasil menjual lebih dari satu juta porsi produk. Yohan menegaskan pihaknya percaya makanan India tidak harus mahal karena ditujukan untuk semua orang.

Accha menyebut keberhasilannya turut didukung upaya mengedukasi pasar bahwa makanan India dapat dikonsumsi sehari-hari, sebagaimana makanan Jepang, Cina, atau Thailand, melalui penyesuaian resep dengan selera masyarakat Indonesia. Abraham menambahkan, respons pelanggan menjadi salah satu indikator penting yang memperkuat keyakinan Hangry terhadap karakter dan kemampuan Accha dalam memenuhi kebutuhan konsumen.

Hangry dan Accha juga menilai model bisnis yang mereka terapkan mampu bertahan di tengah krisis pandemi. Keduanya meyakini penggabungan kekuatan akan mempercepat pencapaian visi bersama untuk menjadi brand makanan global, sejalan dengan pola pikir, nilai bisnis, serta rencana yang dinilai searah.

Yohan menyatakan pihaknya melihat Hangry berada dalam posisi siap meraih tujuannya dan memiliki pendiri yang dinilai baik serta termotivasi. Sementara itu, Abraham menyebut Accha menjadi brand kelima dalam keluarga Hangry, melengkapi empat brand yang sebelumnya dikembangkan sendiri.

Selain mengintegrasikan Accha, Hangry menyatakan membuka kesempatan bagi brand F&B lain yang memiliki visi serupa untuk bekerja sama dalam satu perusahaan. Ke depan, Hangry juga menyampaikan rencana untuk terus menambah outlet, terutama di kota-kota besar di Indonesia, melakukan akuisisi brand lain, serta membangun brand internal guna mempercepat pertumbuhan.