Acara tahunan industri makanan dan minuman (F&B) “Future Menus 2026” digelar di Hanoi pada 2 Juli. Forum strategis ini tidak hanya memetakan tren, tetapi juga membahas bagaimana pelaku industri dapat beradaptasi dengan perubahan gaya hidup modern dan dinamika pasar yang kian kompetitif.
Mengusung tema “Membuka Jalan Menuju Tren - Memimpin Masa Depan,” program ini memperkenalkan tren kuliner yang diperkirakan mendorong pasar global dalam beberapa tahun mendatang. Di saat yang sama, diskusi juga diarahkan pada cara industri menilai tren, mengambil keputusan bisnis, serta mencari peluang pertumbuhan.
Sepanjang rangkaian “Menu Masa Depan 2026”, empat tren kuliner global yang disorot meliputi Cita Rasa Makanan Jalanan, Masakan Lintas Batas, Keunggulan Lokal, dan Menu yang Dipersonalisasi. Keempatnya diproyeksikan akan memimpin pasar makanan global dalam waktu dekat.
Di antara tren tersebut, “Esensi Masakan Lokal” dinilai paling menjanjikan di Vietnam. Sebanyak 87% koki menilai tren ini memiliki potensi pertumbuhan terkuat. Penikmat kuliner dinilai tidak lagi sekadar mencari rasa, melainkan juga ingin memahami kisah budaya di balik makanan. Dalam konteks ini, bahan lokal dan kerajinan tradisional disebut kembali ditemukan dan menjadi dasar bagi kreasi kuliner kontemporer.
Dengan keragaman kuliner Vietnam yang kuat, setiap hidangan kerap melekat pada identitas daerah dan komunitas pembuatnya. Karena itu, para ahli pariwisata menilai daya tarik wisata kuliner tidak cukup hanya dengan menambahkan menu daerah, melainkan perlu dirancang sebagai program yang memberi pengalaman penemuan yang lebih mendalam melalui cita rasa setempat. Ketika kuliner lokal menjadi pusat perhatian, suatu tempat dinilai berpeluang berkembang menjadi destinasi wisata yang menarik.
Temuan lain yang disampaikan berasal dari laporan UFS dan Ipsos. Laporan tersebut menyebut 82% penikmat kuliner ingin mencicipi hidangan yang mencerminkan identitas daerah. Perwakilan UFS Vietnam menyatakan konsumen kini tidak hanya mencari makanan yang enak, tetapi juga tertarik pada asal-usul bahan, pihak yang menyiapkan makanan, serta cerita budaya di baliknya.
Survei yang sama juga mencatat 57% pengunjung restoran bersedia membayar lebih untuk hidangan berbahan lokal, sementara 56% menyatakan lebih memilih mendukung produk lokal.
Pham Thi Quynh Thi, Manajer Konsultan Strategy3 di Ipsos Vietnam, menilai kebangkitan kuliner lokal membuka peluang signifikan bagi industri F&B domestik. Menurutnya, banyak bahan dan hidangan khas Vietnam yang sebelumnya hanya dikenal secara lokal kini semakin dicari. Ketertarikan itu dinilai bukan semata untuk menikmati makanan, melainkan juga sebagai cara terhubung dengan nilai budaya setempat.
Selain tren kuliner, “Future Menus 2026” juga menyoroti peran kecerdasan buatan (AI) dalam industri F&B. AI diposisikan bukan sekadar teknologi demonstrasi, melainkan alat bantu pengambilan keputusan. Teknologi ini disebut dapat membantu koki dan restoran menganalisis data pelanggan, menilai tren, mengoptimalkan menu, serta mempercepat proses pengujian.
Dalam situasi ketika keputusan terkait menu berdampak langsung pada kinerja bisnis, pendekatan berbasis AI dinilai membuka cara baru untuk menggabungkan data dengan pengalaman operasional agar pilihan yang diambil lebih tepat. Program ini juga menghadirkan dialog strategis antara pakar, koki, dan pelaku usaha untuk membahas tantangan praktis, mulai dari pengembangan menu, optimalisasi operasional, hingga menjaga pertumbuhan di pasar yang terus berubah.

