Film Superman garapan James Gunn dijadwalkan mulai tayang di bioskop-bioskop Indonesia pada 9 Juli 2025. Menjelang penayangannya, pembahasan mengenai film ini tidak hanya berkutat pada kualitas cerita atau akting, tetapi juga pada dinamika percakapan di media sosial yang dinilai kian sarat muatan agenda.
Dalam tulisannya, wartawan Nextren Kama Adritya menyebut dirinya merupakan penggemar Superman sejak kecil. Ia menggambarkan Superman sebagai figur pahlawan super yang mengutamakan kepentingan orang lain dan menjadi inspirasi. Menurutnya, penggambaran Superman yang paling mendekati karakter tersebut di layar lebar sebelumnya ada pada versi Christopher Reeve.
Kama menilai aktor David Corenswet mampu menghadirkan sosok Superman yang ia anggap paling sesuai dengan komik, mulai dari penampilan, pembawaan, hingga cara pandang terhadap dunia. Ia bahkan menyebut Corenswet sebagai representasi Superman yang tepat dan menyatakan film ini dapat menjadi tontonan menghibur bagi penonton yang tertarik dengan karakter tersebut.
Namun, ia juga menyoroti perubahan iklim diskusi publik, terutama di media sosial, yang menurutnya membuat film-film hiburan kerap menjadi “kendaraan” berbagai agenda. Dalam konteks Superman versi James Gunn, ia menyebut film ini sempat dianggap memecah basis penggemar, terutama terkait peralihan dari semesta film sebelumnya.
Dalam tulisannya, Kama menyinggung reaksi sebagian penggemar Zack Snyder yang menilai perubahan arah DC Universe (DCU) berdampak pada berakhirnya DC Extended Universe (DCEU). Ia juga menyebut pemecatan Henry Cavill sebagai Superman versi sebelumnya menjadi salah satu pemicu menguatnya kampanye negatif terhadap film baru ini di media sosial, sehingga DC dan James Gunn disebut harus meluangkan waktu untuk menepis narasi tersebut.
Selain itu, ia menilai film ini turut terseret perdebatan politik. Menurut Kama, penggambaran Superman sebagai kisah imigran menuai kritik di Amerika dan Eropa, terutama karena isu imigrasi sedang memanas. Ia menulis bahwa sebagian pendukung MAGA dari Donald Trump menghujat film ini sebagai karya dengan agenda “woke”.
Di sisi lain, film tersebut juga dituduh memuat sentimen anti-Yahudi karena dianggap menampilkan gambaran perang Israel di Gaza. Kama menyebut tuduhan itu dipandang janggal mengingat pencipta Superman, Jerry Siegel dan Joe Shuster, adalah Yahudi. Ia juga menulis bahwa film ini pada saat yang sama dihujat oleh pihak yang pro-Gaza dengan alasan serupa.
Kama menilai fenomena “pendomplengan agenda” tidak hanya terjadi pada Superman, tetapi juga kerap menimpa film berprofil tinggi lain. Ia menyebut beberapa judul seperti Snow White, Thunderbolt*, Sinners, hingga film animasi Elio sebagai contoh film yang menjadi sasaran perdebatan warganet, terlepas dari ada atau tidaknya agenda khusus dari studio.
Ia juga menyinggung skor awal Superman di Rotten Tomatoes yang disebut berada di angka 85% dari kritikus dan 96% dari penonton. Namun ia mengingatkan bahwa penilaian tersebut muncul ketika film baru sehari diputar, bahkan disebut belum tayang di Amerika, sehingga kemungkinan besar berasal dari penonton yang menonton lebih awal.
Di bagian akhir, Kama menyimpulkan bahwa menantikan ulasan film kini terasa semakin tidak relevan karena ruang diskusi, baik di media sosial maupun media besar, menurutnya rentan dipengaruhi agenda politik. Ia mengajak penonton yang mencari hiburan untuk menonton film tanpa membawa ekspektasi politik tertentu, serta menilai Superman tetap layak ditonton sebagai film yang menghadirkan imajinasi dunia komik, bukan cerminan dunia nyata.

