BERITA TERKINI
Festival Sehat Ceria di Kupang Dorong Skrining dan Edukasi Gizi untuk Cegah Stunting

Festival Sehat Ceria di Kupang Dorong Skrining dan Edukasi Gizi untuk Cegah Stunting

Ribuan balita bersama orang tua memadati Aula El Tari, Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), Kamis (23/7/2026), dalam kegiatan Festival Sehat Ceria si Kecil 2026. Kegiatan yang digelar untuk memperingati Hari Anak Nasional 2026 ini menjadi ajang kolaborasi Sarihusada dan Apotek K-24 untuk memperkuat upaya pencegahan stunting melalui skrining tumbuh kembang anak, edukasi gizi, serta penyerahan donasi pencegahan stunting.

Festival tersebut merupakan bagian dari program Generasi Maju Bebas Stunting (GMBS) yang diinisiasi Sarihusada sejak 2023. Program ini ditujukan untuk mendukung lahirnya generasi Indonesia yang sehat dan bebas stunting.

Founder & CEO Apotek K-24, dr. Gideon Hartono, menekankan bahwa stunting tidak dapat dipahami semata sebagai persoalan tinggi dan berat badan anak. Menurutnya, dampak stunting lebih luas karena berkaitan dengan perkembangan otak dan kualitas sumber daya manusia di masa depan.

“Stunting bukan hanya sekadar kurangnya tinggi badan dan berat badan, tetapi merupakan indikator terganggunya pertumbuhan anak, terutama perkembangan otaknya. Jika dibandingkan dengan anak seusianya mengalami keterlambatan pertumbuhan, maka harus menjadi perhatian bersama,” kata Gideon.

Ia menilai NTT masih menjadi salah satu provinsi dengan angka stunting yang tinggi sehingga membutuhkan kolaborasi seluruh pihak. Gideon juga menyebut persoalan stunting tidak hanya dipengaruhi faktor ekonomi, tetapi juga rendahnya pengetahuan masyarakat mengenai pemenuhan gizi dan pola asuh anak.

“Pemerintah sudah melakukan berbagai upaya. Namun stunting bukan hanya masalah kemiskinan, melainkan juga persoalan edukasi. Karena itu Apotek K-24 berkomitmen terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat agar angka stunting dapat ditekan,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Gideon menyampaikan komitmen Apotek K-24 untuk memperluas layanan kesehatan di NTT. Setelah hadir di Kabupaten Rote Ndao dan membuka gerai di Labuan Bajo, pihaknya menargetkan perluasan jaringan hingga Kabupaten Sabu Raijua.

Sementara itu, Sales Director Sarihusada, Rizki Imam Ardhi, menyatakan Hari Anak Nasional perlu menjadi momentum memperkuat komitmen semua elemen bangsa dalam memastikan setiap anak memperoleh akses gizi yang baik agar dapat tumbuh sehat dan optimal. Ia menilai stunting masih menjadi tantangan besar yang harus ditangani serius karena akan menentukan kualitas generasi penerus.

“Selama 71 tahun hadir di Indonesia, Sarihusada berkomitmen untuk terus bersama pemerintah dan seluruh mitra dalam memerangi stunting. Pencegahan stunting harus menjadi program prioritas agar setiap anak Indonesia dapat bertumbuh sehat dan optimal,” kata Rizki.

Rizki menambahkan, kolaborasi dengan Apotek K-24 menjadi bagian dari upaya memperluas edukasi gizi kepada masyarakat. NTT disebut sebagai salah satu wilayah prioritas dalam Program Generasi Maju Bebas Stunting mengingat tingginya prevalensi stunting di daerah tersebut.

Kepala Dinas P3A dan P2 KB Provinsi NTT, Ien Adriani, M.Kes, yang mewakili Gubernur NTT, menegaskan anak merupakan aset sekaligus fondasi pembangunan bangsa. Karena itu, menurutnya, upaya melindungi anak dari ancaman stunting menjadi tanggung jawab bersama, tidak hanya pemerintah tetapi juga dunia usaha dan masyarakat.

“Stunting bukan sekadar persoalan fisik, tetapi juga menyangkut perkembangan otak anak. Jika tidak ditangani secara serius, NTT akan terus menghadapi tantangan kemiskinan dan ketertinggalan. Karena itu semua pihak harus mengambil peran dalam upaya pencegahannya,” ujarnya.

Ien mengapresiasi kolaborasi Sarihusada dan Apotek K-24 melalui Festival Sehat Ceria si Kecil 2026 karena dinilai sejalan dengan komitmen pemerintah dalam meningkatkan kualitas kesehatan ibu dan anak serta mempercepat penurunan angka stunting di NTT.

Selain layanan skrining tumbuh kembang, festival juga memberikan edukasi kepada para orang tua mengenai pentingnya pemenuhan gizi seimbang sejak 1.000 hari pertama kehidupan. Melalui pendekatan edukatif dan kolaboratif, penyelenggara berharap semakin banyak keluarga memahami pencegahan stunting agar dapat mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.