Buku Mustika Rasa kembali diperkenalkan kepada masyarakat melalui Festival Mustika Rasa 2026 yang digelar di Alun-Alun Selatan Yogyakarta. Buku yang memuat sekitar 1.000 resep dari berbagai daerah di Indonesia itu dinilai tidak hanya berfungsi sebagai panduan memasak, tetapi juga merekam perhatian terhadap persoalan pangan masyarakat.
Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Pariwisata, Wiryanti Sukamdani, mengatakan Mustika Rasa menunjukkan kepedulian Presiden Soekarno terhadap detail kebutuhan rakyat. Ia menyebut isi buku mencakup bahan makanan, kandungan gizi, cara memasak, hingga teknik memotong bahan makanan.
“Seorang presiden memikirkan detail rakyatnya. Semua bisa mengambil menu dari situ. Ada 1.000 menu dari buku itu, jadi sangat luar biasa banyak dan kayanya Indonesia,” kata Wiryanti, Sabtu, 29 Agustus 2026.
Menurut Wiryanti, kekayaan bahan pangan Indonesia perlu dikenalkan kembali agar lebih diapresiasi masyarakat. Ia juga menekankan pentingnya membuat makanan berbasis pangan lokal tetap relevan dengan selera generasi muda, sekaligus menjadi rujukan untuk memasak yang sehat dan enak.
Wiryanti menilai eksplorasi pangan lokal memperlihatkan Indonesia tidak kekurangan sumber makanan. Selain nasi, ia menyebut pilihan bahan pangan lain yang dapat dimanfaatkan antara lain sagu, singkong, ubi, sukun, porang, jagung, dan berbagai bahan pangan lokal lainnya.
Semangat tersebut dibawa ke Festival Mustika Rasa 2026 di Yogyakarta yang menghadirkan sekitar 100 stan UMKM. Dalam gelaran yang berlangsung pada 29–30 Agustus 2026 itu, ditampilkan ragam makanan tradisional, kuliner langka Nusantara, fesyen, serta kerajinan lokal.
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menilai resep-resep dalam Mustika Rasa perlu “dibumikan” kembali agar tidak berhenti sebagai dokumentasi sejarah. Menurutnya, resep-resep tersebut dapat dikembangkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat saat ini, termasuk pemenuhan gizi dan pencegahan stunting.