BERITA TERKINI
Fenomena ‘Ukhti Mukena Pink’ Ramadhan 2026 Viral di Medsos, Warganet Diingatkan Waspada Tautan Phishing

Fenomena ‘Ukhti Mukena Pink’ Ramadhan 2026 Viral di Medsos, Warganet Diingatkan Waspada Tautan Phishing

Menjelang Ramadhan 2026, media sosial TikTok dan X (Twitter) ramai oleh pencarian kata kunci “Ukhti Mukena Pink”. Fenomena ini memicu rasa penasaran warganet, namun pengguna internet diminta ekstra waspada karena isu tersebut tidak hanya berkaitan dengan tren busana muslimah, melainkan juga berpotensi dimanfaatkan untuk kejahatan siber berupa phishing yang mengincar data pribadi.

Berdasarkan pantauan hingga Selasa (10/3/2026), sebuah video singkat yang menampilkan seorang perempuan mengenakan mukena berwarna merah muda dengan sensor kotak putih di bagian dada menjadi viral. Ramainya perbincangan membuat sebagian pengguna terpancing mencari versi “tanpa sensor” atau “full durasi”, yang kemudian dimanfaatkan oknum tidak bertanggung jawab dengan menyebarkan tautan mencurigakan di kolom komentar.

Pakar keamanan siber mengingatkan bahwa narasi “versi tanpa sensor” atau “video full durasi” kerap dijadikan umpan. Tautan yang dibagikan umumnya mengarahkan pengguna ke situs palsu yang dirancang untuk mencuri informasi akun media sosial, atau menyebarkan malware ke perangkat.

Sejumlah pengamat menilai sensor pada video diduga sengaja dibuat untuk memancing klik (clickbait). Hingga kini, disebutkan tidak ada bukti autentik mengenai keberadaan video asli yang diklaim beredar tanpa sensor.

Di sisi lain, warna pink juga disebut diprediksi menjadi salah satu primadona dalam tren fashion Lebaran 2026. Berbeda dengan konten viral yang bernuansa negatif, industri ritel justru mencatat lonjakan permintaan mukena berbahan Armany Silk dan Santorini Silk dengan sentuhan warna Dusty Pink dan Rose.

Model mukena 2-in-1 dengan detail laser cut disebut menjadi salah satu produk yang banyak dicari di berbagai marketplace. Perpaduan aspek fungsional dan kesan mewah membuat varian tersebut diminati menjelang Lebaran.

Masyarakat diimbau lebih bijak menyaring informasi viral dan tidak mudah mengeklik tautan asing. Untuk menghindari kerugian materiil maupun risiko keamanan data digital, pengguna juga disarankan bertransaksi perlengkapan ibadah melalui toko resmi atau platform yang terpercaya.