BERITA TERKINI
Fenomena Angka “67” Viral di TikTok: Apa Artinya dan Mengapa Disukai Gen Alpha

Fenomena Angka “67” Viral di TikTok: Apa Artinya dan Mengapa Disukai Gen Alpha

Angka “67” belakangan ramai muncul di kolom komentar TikTok, Instagram Reels, hingga YouTube Shorts. Fenomena yang kerap disebut “six-seven” ini menjadi perbincangan di kalangan Generasi Alpha dan Gen Z muda, meski kerap membingungkan pengguna yang lebih tua.

Dalam tren bahasa gaul internet, “67” tidak dipakai sebagai angka dengan makna harfiah. Istilah ini lebih sering muncul sebagai respons yang terdengar acak atau nonsensical, tanpa arti literal yang pasti. Pengguna memakainya untuk mengekspresikan kebingungan, keraguan, atau sekadar jawaban iseng yang bisa dimaknai seperti “ya, begitulah” atau “entahlah”. Karena fleksibel, “67” kemudian menjadi semacam lelucon bersama (inside joke) yang digunakan untuk merespons beragam konteks.

Keviralannya disebut dipicu oleh beberapa hal. Salah satunya lagu “Doot Doot (6 7)” dari rapper Skrilla yang dirilis pada akhir 2024, dengan frasa “six-seven” yang diulang secara repetitif. Dalam penjelasan yang beredar, pemilihan angka tersebut disebut karena terdengar enak saat diucapkan berulang kali.

Selain itu, tren ini mendapat dorongan besar dari video viral seorang anak di pertandingan basket yang berteriak “six-seven!” sambil menggerakkan telapak tangan naik-turun secara ritmis. Gestur tangan tersebut kemudian ditiru banyak pengguna dan menjadi ciri khas meme “67”. Ada pula yang mengaitkannya dengan tinggi badan pemain basket, misalnya LaMelo Ball yang disebut memiliki tinggi 6 kaki 7 inci, meski kaitan ini lebih sering dianggap sebagai faktor pendukung.

Tren “67” juga merambah mesin pencari. Saat pengguna mengetik “67” di Google, layar pencarian dapat bergoyang naik-turun seperti sedang “menari”. Fitur tersembunyi (easter egg) ini dipahami sebagai rujukan visual terhadap gestur tangan dalam video viral “6-7 Kid”.

Sejumlah pengamat media menempatkan fenomena “67” sebagai contoh “brainrot culture”, yakni jenis konten internet yang sengaja dibuat absurd, repetitif, dan tidak berpretensi memiliki makna mendalam, tetapi dianggap menghibur bagi generasi muda yang akrab dengan arus informasi serba cepat. Bahkan, “67” sempat disebut-sebut sebagai kandidat “Word of the Year 2025” oleh beberapa pengamat bahasa digital karena pengaruhnya dalam membentuk cara berkomunikasi Generasi Alpha.

Dengan pola penyebaran yang cepat dan penggunaan yang semakin luas, angka “67” diperkirakan masih akan sering muncul di berbagai platform. Di balik kesan acaknya, tren ini menunjukkan bagaimana simbol sederhana dapat berubah menjadi bahasa bersama di ruang digital.