Surabaya — Media sosial belakangan diramaikan video eksperimen sederhana yang menampilkan gelas berisi air dan serbuk kunyit disinari senter ponsel di ruangan gelap. Hasilnya, muncul cahaya keemasan kekuningan yang tampak seperti “aurora mini” di dalam gelas, memancing rasa penasaran warganet karena terlihat dramatis namun mudah ditiru.
Tren yang kerap disebut “Turmeric Glow” itu umumnya dilakukan dengan menuangkan air ke gelas bening, menempatkan lampu senter ponsel di bagian dasar gelas, lalu menaburkan bubuk kunyit. Saat lampu dinyalakan dalam kondisi minim cahaya, partikel kunyit terlihat berpendar kuning kehijauan dan membentuk efek visual yang memikat.
Di balik tampilannya yang seolah “ajaib”, fenomena ini dapat dijelaskan secara ilmiah. Efek cahaya muncul karena pigmen utama pada kunyit, yakni curcumin, serta cara cahaya berinteraksi dengan partikel halus kunyit di dalam air. Curcumin dikenal lebih mudah larut dalam alkohol, namun dalam air partikel kunyit tetap dapat menyerap dan memengaruhi lintasan cahaya dari senter yang diarahkan dari bawah.
Ketika cahaya melewati campuran air dan partikel kunyit, cahaya tersebut tersebar dan memantulkan warna khas kunyit, sehingga tampak sebagai kilau kuning kehijauan. Dengan kata lain, ini bukan efek fluoresen seperti bahan yang menyala di bawah sinar ultraviolet (UV), melainkan lebih terkait penyebaran cahaya (scattering) dan refleksi partikel dalam kondisi pencahayaan ruangan gelap.
Popularitas eksperimen ini didorong oleh dua hal: visual yang menarik dan proses yang sederhana. Banyak pengguna menilai eksperimen tersebut “instagrammable”, sekaligus memberi pengalaman belajar yang mudah diakses karena hanya membutuhkan gelas, air, kunyit, dan senter ponsel.
Dari sisi edukasi, eksperimen ini dapat menjadi pintu masuk untuk memahami konsep dasar sains, seperti interaksi cahaya dengan padatan dan cairan, serta karakteristik optik pigmen alami. Di sejumlah konten yang beredar, eksperimen ini juga tampak diminati anak-anak dan keluarga karena menampilkan reaksi langsung yang membuat proses belajar terasa menyenangkan.
Dalam konteks pembelajaran, satuan pendidikan dapat memanfaatkan tren ini sebagai proyek singkat di kelas atau kegiatan praktik sederhana. Pengembangan eksperimen juga memungkinkan, misalnya membandingkan hasil dengan warna lampu yang berbeda atau mengganti kunyit dengan bahan lain seperti vitamin B2 (riboflavin) untuk mengamati perbedaan refleksi dan absorpsi cahaya.
Pendekatan kontekstual semacam ini dinilai dapat mendekatkan teori dengan praktik. Mahasiswa dan dosen, misalnya, dapat menjadikannya mini-lab dengan laporan ringkas atau membuat konten edukasi untuk media sosial kampus, selama tetap berfokus pada penjelasan ilmiah dan komunikasi publik yang mudah dipahami.
Meski tergolong aman dan menggunakan bahan rumah tangga, eksperimen tetap perlu memperhatikan keselamatan dasar. Penggunaan senter ponsel di dekat air sebaiknya dilakukan dengan hati-hati untuk menghindari perangkat terkena tumpahan, dan kegiatan pada anak-anak idealnya tetap dengan pendampingan.

