BERITA TERKINI
Edukasi Gizi Dinilai Penting untuk Membentuk Perilaku Makan Sehat pada Remaja Putri

Edukasi Gizi Dinilai Penting untuk Membentuk Perilaku Makan Sehat pada Remaja Putri

Remaja putri menjadi kelompok yang perlu mendapat perhatian khusus dalam pemenuhan gizi karena berada pada fase pertumbuhan dan perkembangan yang berlangsung cepat. Pada masa ini, kebutuhan zat gizi meningkat dan perlu didukung pola makan seimbang agar status gizi tetap terjaga sekaligus mencegah berbagai masalah gizi.

Di saat yang sama, perilaku makan remaja mulai terbentuk lebih mandiri. Pilihan makanan dapat dipengaruhi lingkungan, teman sebaya, kebiasaan keluarga, media, hingga ketersediaan makanan. Kebiasaan makan yang terbentuk pada periode ini dinilai berperan terhadap kondisi kesehatan pada masa berikutnya.

Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan masalah gizi pada remaja di Indonesia masih tinggi dan beragam. Prevalensi pendek dan sangat pendek pada remaja usia 13–15 tahun tercatat sekitar 24,1%, sedangkan pada usia 16–18 tahun sekitar 33,7%. Masalah kelebihan berat badan juga ditemukan, dengan prevalensi berat badan lebih dan obesitas sebesar 16,2% pada usia 13–15 tahun dan 12,1% pada usia 16–18 tahun. Gambaran ini menunjukkan remaja masih menghadapi persoalan gizi, baik kekurangan maupun kelebihan.

Perilaku makan yang kurang sehat kerap terlihat dari kebiasaan melewatkan sarapan, sering mengonsumsi makanan ringan dan makanan olahan, serta kurang memperhatikan keberagaman makanan. Disebutkan, sekitar sepertiga remaja mengonsumsi makanan ringan buatan pabrik atau makanan olahan, sementara sepertiga lainnya rutin mengonsumsi kue, roti, gorengan, dan kerupuk. Pola konsumsi yang kurang beragam berisiko membuat kebutuhan zat gizi tidak terpenuhi secara optimal, terutama bila tidak diimbangi dengan makanan bergizi lainnya.

Selain itu, remaja putri juga menghadapi risiko anemia yang berkaitan dengan kebutuhan zat besi dan pola konsumsi sehari-hari. Prevalensi anemia pada kelompok usia 15–24 tahun disebut mencapai 32%, atau sekitar satu dari tiga remaja pada kelompok usia tersebut mengalami anemia. Asupan zat besi yang tidak mencukupi menjadi salah satu faktor yang dapat berkontribusi, terlebih pada remaja putri yang mengalami menstruasi. Karena itu, upaya pencegahan tidak hanya bergantung pada ketersediaan sumber zat besi, tetapi juga membutuhkan pemahaman serta perilaku yang mendukung konsumsi makanan bergizi dan kepatuhan terhadap langkah pencegahan yang dianjurkan.

Dalam konteks ini, edukasi gizi dinilai berperan penting untuk membantu remaja memahami kebutuhan gizi dan menerapkan pengetahuan tersebut dalam keseharian. Materi edukasi dapat mencakup gizi seimbang, konsep Isi Piringku, pemilihan sumber protein, konsumsi buah dan sayur, pembatasan gula, garam, dan lemak, pemilihan jajanan, pentingnya sarapan, serta aktivitas fisik. Pengetahuan yang diperoleh diharapkan menjadi dasar dalam menentukan pilihan makanan, sementara peningkatan efikasi diri dan sikap dapat membantu remaja lebih yakin untuk menerapkan kebiasaan makan sehat.

Salah satu contoh intervensi disebut dilakukan pada remaja putri di Pondok Pesantren Darul Khair melalui edukasi gizi seimbang selama 12 minggu dengan metode ceramah, konseling kelompok, dan leaflet. Hasilnya menunjukkan peningkatan skor pengetahuan dari 9,43 menjadi 14,89, efikasi diri dari 7,19 menjadi 8,47, sikap dari 10,25 menjadi 14,57, serta praktik gizi seimbang dari 33,62 menjadi 41,62.

Pembahasan dalam materi tersebut menekankan bahwa pengetahuan gizi merupakan dasar dalam membentuk perilaku makan sehat. Pengetahuan mencakup pemahaman pedoman diet, manfaat makanan bagi kesehatan, risiko dari pilihan makanan yang kurang sehat, hingga akses terhadap makanan. Namun, pengetahuan yang baik tidak selalu otomatis mengubah perilaku, karena remaja juga membutuhkan keyakinan terhadap kemampuan dirinya untuk menerapkan pengetahuan itu.

Efikasi diri disebut berperan menjembatani pengetahuan menjadi tindakan. Lingkungan makanan yang kurang sehat dapat menjadi hambatan bila remaja memiliki keterbatasan pengetahuan, keterampilan, atau rasa percaya diri untuk memilih dan menyiapkan makanan sehat. Karena itu, membangun efikasi diri dipandang penting agar remaja lebih yakin dapat membuat pilihan sehat meski ada pengaruh dari lingkungan.

Selain efikasi diri, sikap positif terhadap makanan sehat juga diperlukan agar pengetahuan dan keyakinan diri berkembang menjadi kemauan untuk menjalankan pola makan lebih baik. Edukasi gizi diharapkan membantu membentuk pemahaman yang lebih positif sehingga remaja tidak hanya mengetahui makanan yang baik bagi tubuh, tetapi juga terdorong untuk memilih dan mengonsumsinya.

Perubahan pada pengetahuan, efikasi diri, dan sikap pada akhirnya diharapkan tercermin dalam praktik makan sehari-hari. Praktik yang lebih baik dapat berupa peningkatan konsumsi buah dan sayur, memilih makanan rumahan, serta membatasi gula dan garam, sementara kebiasaan yang kurang tepat antara lain melewatkan makan dan memilih jajanan yang kurang sehat.

Kesimpulannya, edukasi gizi dipandang sebagai upaya penting untuk meningkatkan perilaku makan sehat pada remaja putri. Edukasi tidak hanya meningkatkan pengetahuan, tetapi juga membangun efikasi diri dan sikap positif yang mendorong praktik gizi lebih baik. Pendekatan yang berkelanjutan dan interaktif—seperti penyuluhan, konseling kelompok, serta penggunaan media edukasi—disebut dapat diperkuat melalui lingkungan sekolah maupun pesantren, dengan harapan kebiasaan makan sehat terbentuk sejak dini dan risiko masalah gizi serta anemia dapat ditekan.