BERITA TERKINI
Doom-Scrolling dan Tren Viral: Saat Kesepian Tersamarkan oleh Konsumsi Konten dan Gaya Hidup Online

Doom-Scrolling dan Tren Viral: Saat Kesepian Tersamarkan oleh Konsumsi Konten dan Gaya Hidup Online

Kesepian disebut sebagai tema yang terus relevan dibicarakan hingga 2026. Dari masa filsuf Yunani hingga era digital, rasa sepi dinilai tidak pernah benar-benar lepas dari pengalaman manusia. Namun dalam konteks zaman sekarang, kesepian kerap dikaitkan dengan fenomena baru: overconsumption dan apa yang belakangan populer disebut sebagai brain rot—kondisi ketika pikiran terasa tumpul akibat konsumsi konten tanpa henti.

Dalam narasi yang berkembang di ruang digital, media sosial dinilai menjadi salah satu faktor yang memperkuat pola tersebut. Kebiasaan doom-scrolling—menggulir konten tanpa henti di platform seperti TikTok dan Instagram—membuat banyak orang menghabiskan waktu sebagai penonton kehidupan selebritas internet maupun teman sendiri. Aktivitas ini dipandang menghadirkan hiburan satu arah, mirip televisi, tetapi tanpa koneksi personal dua arah yang intim.

Di titik ini, hubungan yang terbentuk sering kali bersifat parasosial: pengguna merasa dekat dengan orang lain lewat layar, tetapi relasi tersebut tidak benar-benar melibatkan interaksi mendalam. Algoritma pun dianggap lebih menonjolkan “produk atau konten” ketimbang membangun hubungan yang lebih personal. Akibatnya, pengguna menjadi penonton harian dari unggahan yang sudah terkurasi, sementara respons yang diberikan sering kali terbatas pada tindakan sederhana seperti menekan tombol “like”.

Selain konsumsi konten, fenomena lain yang ikut disorot adalah cepatnya pergantian tren di internet. Berbagai tren disebut muncul dan berganti dalam hitungan hari, mulai dari labubu, ceremonial matcha, tumbler berharga ratusan ribu hingga jutaan, kopi dalgona, cokelat dubai, dan tren lain yang silih berganti. Pola yang muncul: banyak orang mencoba tren tersebut satu per satu, lalu mengunggahnya sebagai penanda bahwa mereka tidak tertinggal dan telah menjadi bagian dari kelompok yang mengikuti tren.

Dalam kerangka ini, konsumsi yang terus-menerus justru dinilai memicu rasa “lapar” yang semakin besar. Semakin dituruti, keinginan baru terus bertambah. Kondisi tersebut dipahami sebagai bentuk overconsumption, yakni konsumsi berlebihan yang tidak selalu berangkat dari kebutuhan.

Fenomena itu juga dipertanyakan sebagai persoalan yang lebih dalam, bahkan disebut bersinggungan dengan sisi spiritual. Argumennya, ketika seseorang tidak benar-benar memahami apa yang diinginkan dalam hidup atau nilai apa yang dipegang, ia lebih mudah terbawa arus tren yang acak dan tidak mencerminkan dirinya secara pribadi. Ada pula dugaan bahwa mengikuti tren terus-menerus bisa menjadi cara untuk mengejar sensasi “akhirnya mendapatkan sesuatu”, terutama ketika dalam kehidupan nyata banyak hal tidak bisa diraih semudah menekan tombol check out.

Pada dasarnya, manusia dipandang memiliki kebutuhan untuk merasa menjadi bagian dari sesuatu (belonging) dan merasakan keintiman atau koneksi personal. Dalam gambaran yang digunakan, manusia purba hidup dalam suku untuk merasa aman dan terkoneksi—dan manusia modern dinilai tidak jauh berbeda, hanya mediumnya yang bergeser. Di era digital, sebagian orang berupaya berada dalam “realitas yang sama” dengan teman-teman online, termasuk melalui pembelian barang-barang tren sebagai penanda kehadiran dan keterhubungan di dunia maya.

Dari sudut pandang ini, tren dan konsumsi bisa menjadi cara untuk menutupi rasa sepi: mengisi kekosongan dengan masuk ke kelompok-kelompok yang sebenarnya tidak selalu sesuai dengan diri sendiri, tetapi terasa penting karena “semua orang ada di situ”. Akibatnya, interaksi intim dengan teman dan keluarga di dunia nyata, atau koneksi yang lebih intens dan dalam di media sosial, bisa tergeser oleh obsesi menjadi bagian dari kelompok trendi.

Pada akhirnya, kebutuhan untuk terkoneksi dan meredakan kesepian disebut tidak cukup dipenuhi oleh barang atau tren yang sifatnya sementara. Jalan keluar yang ditekankan adalah mengurangi hidup di dunia maya dan kembali memberi perhatian pada dunia nyata—membangun kedekatan yang lebih personal, alih-alih menggantinya dengan konsumsi konten dan simbol-simbol tren yang tidak benar-benar mengisi kekosongan batin.